Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cinere menerapkan uji organoleptik pada setiap menu makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan ke sekolah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan makanan aman, layak konsumsi, serta sesuai dengan selera siswa.
Kepala SPPG Cinere, Afif Maulana Rivai, mengatakan uji organoleptik dilakukan dengan membagikan formulir penilaian kepada penerima MBG. Melalui formulir tersebut, siswa diminta menilai aroma, rasa, dan tampilan makanan yang diterima.
“Setiap menu harian, kita membawa lembar form yang diberikan ke pihak sekolah,” kata Afif di Cinere, Depok, Senin (6/10/2025). Ia menambahkan, pihak penerima wajib mengisi penilaian sesuai pengalaman mereka, termasuk mencatat hal-hal yang dirasa kurang, untuk kemudian dievaluasi.
Afif menjelaskan, penyesuaian menu harian MBG dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari ahli gizi, puskesmas, hingga sekolah. Menurut dia, monitoring juga dilakukan dengan turun langsung ke sekolah bersama ahli gizi dan puskesmas untuk menanyakan preferensi siswa terhadap menu.
Setelah preferensi anak-anak diketahui, tim ahli gizi SPPG Cinere menghitung dan menyesuaikan komposisi gizi tiap menu yang akan dimasak agar tetap memenuhi standar kebutuhan harian siswa. Selain itu, monitoring harian juga dilakukan dengan melibatkan pihak sekolah.
Afif menyebut upaya tersebut sebagai bentuk komitmen SPPG Cinere dalam menjaga kualitas dan keamanan MBG. Hasil evaluasi harian dari sekolah kemudian dijadikan bahan perbaikan serta inovasi untuk menu berikutnya.
Ahli gizi SPPG Cinere, Disha Nabilah, menambahkan bahwa uji organoleptik merupakan tahapan penting sebelum MBG dikonsumsi siswa. Ia menekankan peran guru dan kepala sekolah dalam melakukan pengecekan sebelum makanan dibagikan.
Menurut Disha, setiap pengiriman MBG ke sekolah disertai sampel makanan dan formulir uji organoleptik agar pihak sekolah dapat melakukan pemeriksaan secara mandiri. Sampel tersebut dicicipi untuk memastikan makanan masih aman dikonsumsi.
Disha juga mengimbau agar MBG segera dibagikan dan dimakan. Jika makanan sudah lebih dari dua jam sejak tiba di sekolah, pihaknya tidak menganjurkan untuk dikonsumsi lagi.

