Sebuah percakapan singkat di salah satu cabang Sop Saudarata di Jalan Urip Sumoharjo membuka pertanyaan yang lebih luas tentang arti ekspansi usaha kuliner lokal di Makassar. Saat menunggu pesanan, penulis menanyakan jumlah cabang yang dimiliki rumah makan tersebut. Jawabannya: sudah delapan cabang, dengan pemilik disebut bernama Daeng Piyo atau Nur Daeng Piyo.
Fakta bertambahnya jumlah cabang itu memunculkan refleksi: apakah ini semata kisah sukses sebuah brand kuliner lokal, atau ada dampak ekonomi yang lebih besar di balik berkembangnya rumah makan dengan menu yang relatif serupa?
Dalam kacamata ekonomi, sebuah usaha tidak hanya dinilai dari omzet, tetapi juga dari efek berantai atau multiplier effect yang ditimbulkannya. Semakin panjang rantai pasok yang terhubung, semakin besar pula pengaruhnya terhadap ekonomi setempat.
Delapan cabang berarti kebutuhan bahan baku meningkat berkali-kali lipat. Setiap hari, pasokan daging sapi dan jeroan, beras, telur asin, jeruk nipis, emping melinjo, cabai, bawang merah, bawang putih, daun bawang, hingga minyak goreng harus tersedia. Di balik kebutuhan dapur itu ada rangkaian pelaku ekonomi: peternak, pedagang pengumpul, pasar hewan, rumah potong, distributor daging, pemasok beras, petani jeruk, pengrajin emping, pedagang telur asin, sopir angkutan, hingga pekerja bongkar muat.
Dengan demikian, keberadaan satu rumah makan tidak hanya menciptakan pekerjaan bagi koki dan pelayan, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi di sektor lain yang menopang pasokan harian.
Makassar dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan, namun pertumbuhan sektor tersebut bergantung pada pasokan dari wilayah penyangga. Ketika Sop Saudarata berkembang menjadi delapan cabang, permintaan terhadap produk pangan ikut meningkat. Dalam narasi rantai pasok, peternak sapi di sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan disebut memperoleh pasar yang lebih stabil, pedagang beras memiliki pelanggan tetap, dan petani jeruk mendapatkan pembeli dalam jumlah besar serta berkelanjutan.
Bahkan emping melinjo yang kerap dianggap pelengkap sederhana, dalam praktiknya menyimpan mata rantai ekonomi tersendiri. Di balik sepiring emping terdapat keluarga-keluarga kecil yang mengolah biji melinjo menjadi produk bernilai tambah. Pada titik ini, rumah makan tidak lagi sekadar tempat makan, melainkan simpul yang menghubungkan pertanian, peternakan, perdagangan, logistik, dan jasa.
Aspek lain yang turut disorot adalah penyerapan tenaga kerja di kota. Jika satu cabang mempekerjakan sekitar 20 hingga 30 orang, maka delapan cabang berpotensi menyerap ratusan tenaga kerja secara langsung. Di luar itu, masih ada pekerja keamanan, petugas kebersihan, pemasok bahan baku, pengemudi distribusi, hingga layanan pengantaran makanan berbasis aplikasi.
Di tengah tantangan urbanisasi dan bertambahnya jumlah pencari kerja, sektor kuliner kerap menjadi penyerap tenaga kerja yang relatif inklusif. Banyak posisi tidak mensyaratkan pendidikan tinggi, namun tetap menjadi sumber penghasilan bagi keluarga dan pintu masuk menuju stabilitas ekonomi rumah tangga.
Kisah berkembangnya Sop Saudarata juga menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi kota tidak selalu lahir dari investasi besar atau perusahaan nasional. Ia bisa berawal dari resep keluarga, konsistensi rasa, pelayanan, dan kemampuan membaca pasar. Ketika usaha lokal tumbuh menjadi jaringan multi-cabang, muncul pula efek psikologis yang dinilai penting: meningkatnya kepercayaan bahwa bisnis lokal dapat berkembang besar tanpa kehilangan identitasnya.
Kepercayaan semacam itu dapat mendorong lahirnya wirausaha baru. Pelaku UMKM melihat ekspansi bukan sesuatu yang mustahil, dan dalam jangka panjang kepercayaan diri ekonomi dinilai berperan bagi pertumbuhan kota.
Pertumbuhan rumah makan juga kerap dibaca sebagai indikator tidak langsung kesehatan ekonomi. Jika sebuah restoran mampu membuka cabang baru, itu menunjukkan adanya daya beli yang bergerak: pekerja yang menerima gaji, pegawai yang makan siang di luar, mahasiswa yang menjadi pelanggan, hingga keluarga yang memilih makan bersama pada akhir pekan.
Makassar dalam dua dekade terakhir berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan jasa di Indonesia Timur. Dalam konteks itu, pertumbuhan usaha kuliner seperti Sop Saudarata dipandang sebagai salah satu manifestasi dinamika ekonomi kota. Dari semangkuk sop yang disajikan bersama nasi hangat, telur asin, emping, dan perasan jeruk nipis, tersimpan kerja kolektif banyak pihak—dari peternak dan petani, pedagang pasar, sopir pengangkut, hingga juru masak dan pelanggan yang menjaga siklus ekonomi terus berputar.
Pada akhirnya, bertambahnya cabang bukan hanya soal ekspansi bisnis, melainkan bertambahnya simpul-simpul ekonomi yang menghubungkan desa dan kota, produsen dan konsumen, serta usaha kecil dengan pasar yang lebih besar. Dari hal yang tampak sederhana, denyut ekonomi Makassar dapat terbaca.

