SMPN 15 Mataram merencanakan edukasi gizi masuk ke berbagai kegiatan pendidikan, mulai dari pembelajaran di kelas hingga aktivitas ekstrakurikuler. Sekolah menargetkan pemahaman tentang makanan bergizi tidak berhenti pada teori, tetapi diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari siswa.
Rencana ini disusun setelah pihak sekolah mengikuti lokakarya edukasi gizi. Kepala SMPN 15 Mataram, Hj. Sri Wahyu Indriani, mengatakan materi gizi akan disesuaikan dengan kegiatan belajar dan pembinaan yang sudah berjalan di sekolah.
“Hasil workshop tersebut mengimplementasikan, jadi edukasi gizi nanti akan diintegrasikan ke intrakurikuler, ke ko kurikuler, kemudian ke ekstrakurikuler, dan pembiasaan,” ujarnya, Selasa, 13 Oktober 2026.
Dalam pembelajaran intrakurikuler, setiap guru mata pelajaran diminta mengidentifikasi materi yang bisa dikaitkan dengan edukasi gizi. Dengan begitu, pembahasan mengenai makanan sehat dapat disampaikan sesuai konteks mata pelajaran, bukan hanya melalui satu kegiatan khusus.
Penerapan edukasi gizi juga dirancang untuk kegiatan di luar kelas. Pada ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), misalnya, materi dapat dikaitkan dengan kesehatan diri. Sementara dalam kegiatan Pramuka, sekolah melihat peluang untuk membiasakan siswa merencanakan menu makanan bergizi.
Sri Wahyu mencontohkan kegiatan perkemahan sebagai salah satu kesempatan mengenalkan pilihan makanan yang lebih sehat. “Pramuka kegiatan persami, nanti dari kegiatan persami apa nih edukasi gizinya? Mungkin dia menyusun menu kemah, nah tentunya menu kemah itu yang bergizi, jangan sampai anak-anak pramuka itu yang dimasak hanya mie saja,” katanya.
Selain pembelajaran dan ekstrakurikuler, sekolah juga telah memiliki Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang didukung tim keamanan pangan sekolah. Tim tersebut terdiri atas ketua serta kader junior dan senior yang mendapatkan pembinaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Edukasi gizi juga dapat disisipkan dalam agenda sekolah, termasuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dalam kegiatan tersebut, BPOM pernah memberikan materi mengenai jajanan sehat untuk membantu siswa mengenali pilihan pangan yang lebih baik.
Menurut Sri Wahyu, keberadaan kader pangan sekolah diharapkan memudahkan informasi tentang makanan sehat menjangkau siswa lainnya. Para kader dapat berbagi pengetahuan dengan teman sekelas, termasuk dalam kegiatan sarapan bergizi dan pengenalan konsep “Isi Piringku”.
Sekolah juga berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diteruskan kepada keluarga di rumah. Dengan demikian, pembiasaan makan sehat tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat diperkenalkan kepada orang tua.
Sri Wahyu menilai pemenuhan gizi berkaitan dengan kondisi fisik siswa, kehadiran di sekolah, hingga capaian belajar. Ia berharap pemahaman gizi yang lebih baik dapat mendukung kesehatan siswa sekaligus membantu mereka mengikuti kegiatan pendidikan secara optimal. “Sangat penting bagi kami, karena kami berharap anak-anak itu sehat fisiknya. Dengan sehat, anak-anak itu akan selalu hadir ke sekolah dan kemudian yang saya harapkan ya prestasinya meningkat dengan gizi yang semakin baik,” ujarnya.