Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Banjar menerapkan skema khusus. Penyesuaian dilakukan pada jenis menu dan sistem distribusi, mengikuti kondisi sekolah yang sebagian masih menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Perbedaan terlihat pada penggunaan menu basah dan menu kering, serta pola penyaluran yang tidak seragam. Sejumlah sekolah menerima pengantaran setiap hari, sementara sekolah lain mendapatkan paket makanan dua kali dalam sepekan dengan sistem rapelan maksimal untuk tiga hari.
Koordinator Wilayah SPPI Kabupaten Banjar, Shinta Aulia, menjelaskan bahwa sekolah yang melaksanakan kegiatan belajar dengan kehadiran siswa setiap hari akan menerima distribusi MBG harian. Namun, untuk sekolah yang masih PJJ dan siswa tidak datang langsung, distribusi dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan pihak sekolah penerima manfaat, yakni setiap Senin dan Kamis. Pengiriman pada dua hari tersebut mencakup kebutuhan hingga tiga hari ke depan.
Selama Ramadan, siswa sekolah menerima menu kering yang dinilai praktis dan lebih tahan simpan. Paket MBG antara lain berisi ayam ungkep yang diproses dan dikemas dengan plastik vakum (press) agar lebih awet dan aman dibawa pulang. Selain itu, paket juga dilengkapi susu, roti, buah, telur, hingga puding untuk melengkapi asupan gizi.
Menurut Shinta, variasi menu disesuaikan dengan kreasi masing-masing SPPG. Untuk sumber karbohidrat pada menu kering dapat berupa roti, jagung, ubi, atau kentang. Protein hewani antara lain abon, telur, ayam, dan susu. Protein nabati dapat berasal dari tempe, kacang, dan tahu. Sementara serat serta vitamin dipenuhi dari beragam buah-buahan.
Berbeda dengan siswa, kelompok 3B—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—tetap menerima layanan dua kali sepekan. Pada hari Senin, mereka memperoleh satu menu basah untuk hari itu serta dua menu kering untuk Selasa dan Rabu. Pada Kamis, kembali disalurkan satu menu basah untuk hari tersebut serta dua menu kering untuk Jumat dan Sabtu. Skema ini juga disesuaikan dengan kesepakatan bersama penerima manfaat.
Penyaluran MBG dilakukan melalui penanggung jawab atau PIC (Person in Charge) di masing-masing sekolah. Siswa dapat mengambil paket sesuai waktu yang disepakati. Namun, penerimaan paket bergantung pada kehadiran dan kesediaan siswa untuk mengambilnya. Jika tidak diambil, paket yang sudah dikirim menjadi tanggung jawab pihak sekolah.
Untuk jenjang SD, distribusi umumnya difokuskan pada kelas tertentu, meski ada sekolah yang menyalurkan kepada seluruh tingkatan. Sementara pada jenjang TK, tidak ada perbedaan jenis menu, hanya penyesuaian ukuran porsi yang lebih kecil dibanding siswa kelas atas.
Di Kabupaten Banjar, sebagian sekolah masih menerapkan distribusi per tiga hari. Namun, berdasarkan arahan Ketua Regional, skema ideal dinilai berupa distribusi harian agar kebutuhan gizi anak terpenuhi lebih optimal. Penyaluran harian dianggap lebih tepat sasaran karena nilai gizi telah dihitung berdasarkan kebutuhan asupan per hari.
Kekhawatiran muncul ketika makanan dibagikan sekaligus untuk beberapa hari karena berpotensi dikonsumsi dalam satu waktu, sehingga tidak sesuai dengan perhitungan kebutuhan gizi yang telah ditetapkan.
Penentuan menu dilakukan oleh pengawas gizi bersama tim KSPPG (Kelompok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Mereka memastikan komposisi makanan memenuhi standar kebutuhan protein, karbohidrat, serta vitamin bagi anak sekolah.
Perbedaan pola distribusi di tiap wilayah menunjukkan adanya fleksibilitas dalam pelaksanaan program MBG, menyesuaikan kondisi daerah dan kesiapan logistik. Meski demikian, evaluasi berkelanjutan dinilai diperlukan agar standar pemenuhan gizi harian siswa dapat tercapai secara merata. Pemerintah daerah bersama pihak sekolah juga diharapkan terus memperkuat koordinasi agar penyaluran MBG selama Ramadan berjalan tertib, tepat sasaran, serta tetap menjaga kualitas dan kecukupan gizi bagi seluruh penerima manfaat.

