Sebanyak 28 perusahaan Vietnam berpartisipasi dalam Pameran Industri Makanan Internasional Seoul Food 2026. Keikutsertaan ini tidak hanya dimaknai sebagai ajang promosi dagang, tetapi juga mencerminkan arah baru ekspor Vietnam: dari penjualan bahan mentah menuju penetrasi pasar dengan produk olahan yang lebih canggih.
Peluang tersebut dinilai terbuka lebar seiring meningkatnya ketergantungan Korea Selatan pada makanan impor untuk mengimbangi keterbatasan lahan pertanian. Kondisi ini memberi ruang bagi produk pertanian Vietnam untuk masuk lebih jauh ke rantai pasokan global, dengan catatan mampu memenuhi standar yang ketat sekaligus menghadirkan identitas produk yang jelas.
Korea Selatan disebut sebagai ekonomi terbesar keempat di Asia dan memiliki salah satu pasar makanan dan minuman terbesar di Asia Timur Laut. Dengan konsumsi tahunan yang mencapai ratusan miliar dolar AS, permintaan terhadap produk pertanian tropis impor, makanan laut, dan makanan olahan terus meningkat. Sejumlah komoditas Vietnam yang dinilai memiliki keunggulan kompetitif—seperti kopi, buah olahan, kacang mete, dan rempah-rempah alami—dipandang berpeluang menembus sistem distribusi modern serta jaringan ritel di negara tersebut.
Saat mengunjungi area pameran, Duta Besar Vietnam untuk Korea Selatan Vu Ho mengapresiasi upaya perusahaan Vietnam dalam meningkatkan kualitas kemasan dan menaruh perhatian pada ketertelusuran produk. Ia menilai meski Korea Selatan dikenal sebagai pasar dengan persyaratan tinggi terkait mutu dan keamanan pangan, pasar ini juga menawarkan potensi besar bagi produk yang sejalan dengan tren konsumen, seperti gaya hidup sehat, konsumsi ramah lingkungan, dan kebutuhan akan produk yang praktis.
Partisipasi dalam ajang seperti Seoul Food 2026 juga dipandang sebagai jembatan untuk memperluas jaringan mitra bisnis, memperdalam keterlibatan dalam rantai pasokan regional, serta mendukung target peningkatan perdagangan bilateral Vietnam–Korea Selatan menjadi US$150 miliar pada 2030.
Meski demikian, upaya menembus pasar Korea Selatan masih menghadapi tantangan. Hambatan teknis terkait keamanan pangan dan pembangunan berkelanjutan disebut menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, perubahan pola pikir produksi dinilai sebagai “kendala” besar, terutama pergeseran dari ekspor bahan mentah menuju produk bernilai tambah tinggi yang dibangun dengan merek sendiri.
Para ahli menilai, untuk bersaing dengan pelaku internasional, perusahaan Vietnam tidak cukup hanya mengandalkan kualitas dan harga. Diperlukan kemampuan mengakses pasar melalui teknologi pengolahan modern dan penerapan standar pengendalian yang ketat.
Dalam konteks penguatan merek, keberhasilan produk makanan Korea yang kerap dikaitkan dengan “gelombang budaya K”—termasuk kisah K-gimbap—dinilai memberi pelajaran penting. Vu Ho menekankan bahwa perusahaan Vietnam dapat belajar dari pendekatan tersebut: menggabungkan teknologi pengolahan modern dengan narasi budaya lokal untuk meningkatkan daya saing.
Ia juga menyoroti pentingnya menjual nilai budaya dan strategi merek nasional, bukan sekadar produk. Menurutnya, jika kepercayaan konsumen Korea dapat diperkuat melalui transparansi asal-usul dan kualitas yang ramah lingkungan, makanan Vietnam berpeluang keluar dari label “murah” dan memantapkan diri sebagai pemasok pangan kelas atas serta berkelanjutan di masa depan.

