BERITA TERKINI
Seminar di UGM Soroti Potensi Ilmiah Rempah Nusantara, dari Riset Genetik hingga Ancaman Penyakit

Seminar di UGM Soroti Potensi Ilmiah Rempah Nusantara, dari Riset Genetik hingga Ancaman Penyakit

Indonesia pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia. Namun, nilai rempah Nusantara dinilai tidak berhenti pada perannya sebagai bumbu dapur, melainkan juga menyimpan potensi ilmiah yang terus digali peneliti dari berbagai negara.

Gagasan itu menjadi benang merah Seminar Nasional Biologi Tropik ke-10 yang berkolaborasi dengan International Conference on Nusantara Spices and Biodiversity (ICNSB), yang digelar di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (1/7/2026).

Dekan Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Dr. Budi Daryono, menegaskan rempah Nusantara perlu dipandang melampaui nilai historisnya. Ia menyebut rempah merupakan sumber daya strategis yang perlu terus dikembangkan melalui riset agar memberi manfaat bagi kesehatan, industri, dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Budi, kekayaan genetik rempah Indonesia perlu dijaga dengan penguatan riset molekuler, bioprospeksi, serta konservasi sumber daya genetik. Upaya tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjaga biodiversitas, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan pangan fungsional, produk farmasi berbahan alam, dan bioekonomi berkelanjutan.

Ia mencontohkan pentingnya riset genetik melalui kasus pala Sangihe, komoditas endemik yang disebut perlu mendapatkan perhatian serius. Penelitian yang dilakukan mengidentifikasi lima morfotipe utama pala Sangihe, yakni bulat tebal, bulat tipis, oval tebal, oval tipis, dan biji kembar.

Temuan itu, kata Budi, dapat menjadi data dasar untuk mendukung konservasi serta pengembangan varietas unggul di masa mendatang. Ia menambahkan, pendekatan morfologi dan analisis molekuler dapat membantu memahami keragaman genetik rempah sebagai pijakan dalam upaya konservasi dan pemuliaan.

Dari sisi lain, seminar juga menyoroti ancaman penyakit pada tanaman rempah. Prof. Chiharu dari Mie University, Jepang, menyampaikan bahwa mekanisme penyakit pada tanaman pada dasarnya serupa dengan penyakit pada hewan karena sama-sama disebabkan patogen, seperti virus dan bakteri.

Berdasarkan tinjauan berbagai penelitian, dari sembilan jenis tanaman rempah yang dikaji, tercatat 34 jenis penyakit yang menyerang komoditas tersebut. Temuan ini menegaskan perlunya perhatian terhadap aspek kesehatan tanaman dalam menjaga keberlanjutan rempah Nusantara.