BERITA TERKINI
Sambal Wader, Kuliner Tradisional Mojokerto yang Diyakini Bertahan Sejak Era Majapahit

Sambal Wader, Kuliner Tradisional Mojokerto yang Diyakini Bertahan Sejak Era Majapahit

Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, memiliki beragam kuliner tradisional yang lekat dengan nilai sejarah. Salah satunya sambal wader, hidangan berbahan ikan air tawar berukuran kecil yang dipercaya sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit dan masih bertahan hingga kini.

Upaya pelestarian kuliner ini antara lain dilakukan melalui Festival Sambel Wader yang digelar Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Festival tersebut tidak hanya menampilkan cita rasa khas sambal wader, tetapi juga dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian Majapahit Festival (MajaFest) yang memadukan unsur budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata.

Sambal wader disebut sebagai kuliner khas Mojokerto yang dikaitkan dengan sejarah Trowulan, kawasan yang dikenal sebagai pusat peninggalan Majapahit. Ikan wader, yakni ikan kecil air tawar, dahulu banyak ditemukan di sekitar Kolam Segaran, Trowulan—kolam kuno yang berasal dari era Majapahit. Sejak masa lampau, masyarakat setempat memanfaatkan ikan tersebut sebagai lauk sehari-hari. Dalam sejumlah kisah, olahan ikan wader juga disebut pernah disajikan oleh abdi kerajaan untuk keluarga kerajaan.

Ciri khas sambal wader terletak pada perpaduan ikan wader goreng yang renyah dengan sambal segar hasil ulekan langsung atau sambal colek. Sambalnya dibuat dari cabai, tomat, bawang, serta perasan jeruk nipis yang diulek dalam kondisi segar tanpa digoreng, sehingga menghadirkan rasa pedas dan segar.

Dari sisi pengolahan, sambal wader tergolong sederhana. Ikan dibersihkan, kemudian dibumbui dengan rempah seperti bawang putih, kunyit, ketumbar, garam, dan merica, sebelum digoreng hingga kering. Keistimewaan hidangan ini disebut terletak pada kesegaran sambal dan tekstur ikan yang renyah saat disantap bersama nasi putih hangat.

Dalam penyajiannya, sambal wader kerap dilengkapi lalapan seperti timun, kubis, dan daun kemangi. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan segar membuatnya menjadi salah satu kuliner yang digemari, terutama di kawasan wisata sejarah Trowulan.