BERITA TERKINI
Rupiah Melemah ke Rp17.700-an per Dolar AS, Harga Pangan Naik dan UMKM Kuliner Mulai Terapkan Shrinkflation

Rupiah Melemah ke Rp17.700-an per Dolar AS, Harga Pangan Naik dan UMKM Kuliner Mulai Terapkan Shrinkflation

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir mulai terasa hingga ke sektor riil. Dampaknya tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar dan korporasi besar, tetapi juga merembet ke dapur rumah tangga melalui kenaikan harga sejumlah bahan pangan, serta menekan keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di sektor kuliner.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun rantai pasok beberapa komoditas konsumsi masih bergantung pada impor. Ketika rupiah terdepresiasi dan sempat menyentuh Rp17.784 per dolar AS, biaya yang harus ditebus importir ikut membengkak. Kenaikan biaya tersebut kemudian tercermin pada harga jual di tingkat konsumen.

Penguatan dolar AS juga mendorong naiknya biaya logistik, yang berujung pada penyesuaian harga di berbagai komoditas. Sejumlah bahan yang sensitif terhadap impor—seperti daging sapi, bawang putih, kedelai, gula pasir, hingga gandum—mengalami kenaikan di pasar tradisional maupun modern, sejalan dengan data pada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS).

Berdasarkan pantauan harga terbaru, daging sapi kualitas 1 tercatat menembus Rp147.450 per kilogram, sementara daging sapi kualitas 2 berada di kisaran Rp139.050 per kilogram. Bawang putih ukuran sedang tercatat naik hingga Rp38.650 per kilogram, sedangkan gula pasir kualitas premium berada di level Rp20.020 per kilogram.

Naiknya harga daging sapi secara global diperkirakan memicu efek lanjutan pada produk turunannya seperti susu, mentega (butter), hingga krim kocok (whipping cream). Kondisi ini dapat mempersempit ruang gerak pelaku usaha turunan di sektor kreatif, termasuk bisnis bakery dan kedai kopi, yang bergantung pada bahan-bahan tersebut.

Dampak ketergantungan impor juga dirasakan pengrajin tahu dan tempe yang mengandalkan kedelai dari luar negeri. Untuk menahan kenaikan biaya bahan baku tanpa kehilangan pelanggan, sebagian produsen mulai menerapkan strategi shrinkflation.

Shrinkflation merupakan fenomena ketika produsen memperkecil ukuran, volume, atau porsi produk, namun menjualnya dengan harga yang sama atau sedikit lebih tinggi untuk menutup biaya operasional yang meningkat.

Strategi serupa mulai terlihat pada pelaku usaha minuman kemasan dan makanan penutup (dessert) seiring harga gula pasir yang terus naik. Bagi UMKM kuliner skala rumahan, situasi ini memunculkan dilema: mempertahankan kualitas rasa dengan menaikkan harga yang berisiko menurunkan minat pembeli, atau menjaga harga tetap terjangkau dengan konsekuensi pengurangan porsi.

Tekanan dinilai berpotensi bertambah karena penguatan dolar AS dapat memicu efek berantai pada biaya logistik dari hulu ke hilir, termasuk sektor transportasi yang berkaitan dengan pengadaan suku cadang kendaraan maupun bahan bakar operasional.

Kelompok berpendapatan tetap menjadi yang paling rentan menghadapi kondisi ini. Ketika harga kebutuhan pokok terus naik sementara pendapatan tidak bertambah, daya beli riil masyarakat berisiko menurun. Pemerintah bersama otoritas terkait diharapkan segera mengambil langkah intervensi pasar untuk meredam laju kenaikan harga kebutuhan pokok sebelum dampaknya meluas pada stabilitas ekonomi domestik.