Kampung Warna-Warni Jodipan, Malang, kembali menjadi ruang pertemuan budaya lokal, kuliner, dan pariwisata melalui kegiatan bertajuk “Rona Rasa: Hangatnya Pasar dalam Setiap Rasa”.
Acara yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menghadirkan pasar kuliner UMKM yang dipadukan dengan permainan tradisional Indonesia serta pertunjukan musik akustik. Konsep tersebut dirancang untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih interaktif bagi pengunjung Jodipan.
Beragam pelaku UMKM lokal turut berpartisipasi dengan menawarkan aneka makanan dan minuman. Kehadiran pasar kuliner ini tidak hanya menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha, tetapi juga menambah daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.
Selain menikmati kuliner, pengunjung diajak berinteraksi lewat sejumlah permainan tradisional, seperti rangku alu, engklek, congklak, dan lompat tali karet. Kegiatan ini diikuti berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, warga sekitar, wisatawan domestik, hingga wisatawan mancanegara. Pengunjung tampak antusias mencoba permainan setelah mendapatkan penjelasan dari panitia dan volunteer.
Ketua Pelaksana Rona Rasa, Naila Tafdlila, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya berfokus pada destinasi, tetapi juga melibatkan interaksi langsung dengan budaya lokal.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat pengunjung tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, mengenal kuliner lokal, dan mencoba permainan tradisional yang menjadi bagian dari budaya Indonesia,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pasar dipenuhi interaksi antara pengunjung, pelaku UMKM, dan volunteer. Pengunjung menikmati sajian kuliner sambil menyaksikan pertunjukan musik akustik serta berpartisipasi dalam permainan tradisional yang disediakan.
Melalui konsep pasar budaya tersebut, kegiatan Rona Rasa menunjukkan kolaborasi antara UMKM, budaya, dan pariwisata dapat menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkesan sekaligus membuka ruang promosi bagi pelaku usaha lokal. Penyelenggara berharap konsep serupa dapat terus dikembangkan sebagai salah satu upaya mendukung sektor pariwisata berbasis budaya di Kota Malang.

