BERITA TERKINI
Riset: Ekstrak Belimbing Wuluh, Daun Sirih, dan Kulit Jengkol Tekan Serangan Kutu Daun pada Terung Lebih dari 80 Persen

Riset: Ekstrak Belimbing Wuluh, Daun Sirih, dan Kulit Jengkol Tekan Serangan Kutu Daun pada Terung Lebih dari 80 Persen

Kombinasi belimbing wuluh, daun sirih, dan kulit jengkol yang umum ditemukan di dapur disebut berpotensi menjadi pestisida nabati untuk tanaman terung. Hasil riset menunjukkan formulasi ekstrak dari tiga bahan tersebut mampu menekan serangan kutu daun pada terung hingga lebih dari 80 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.

Kutu daun (Aphis gossypii) dikenal sebagai salah satu hama penting pada terung. Serangga ini mengisap cairan tanaman dan dapat membentuk koloni padat, sekitar 100–200 ekor per tanaman. Serangan kutu daun dapat menyebabkan daun mengeriting dan menggulung, serta memicu pertumbuhan jamur jelaga Capnodium sp. yang menghitamkan permukaan daun dan mengganggu proses fotosintesis.

Serangan hama ini umumnya meningkat pada fase vegetatif aktif, sekitar 35–42 hari setelah tanam (HST). Pada periode tersebut, petani kerap mengandalkan pestisida kimia untuk pengendalian, meski berisiko menimbulkan residu dan meningkatkan biaya produksi.

Efektivitas kombinasi bahan dapur itu diuji dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Triton edisi Juni 2026 oleh Kayla Fatimah Zulfah dan tim dari Universitas Negeri Jakarta. Penelitian dilakukan pada tanaman terung ungu varietas Laguna F1 di Lahan Laboratorium Agens Hayati Cibubur, Jakarta Timur, pada Februari–Mei 2025.

Peneliti menguji beberapa konsentrasi ekstrak, yakni 10%, 30%, 50%, dan 70%, serta kontrol tanpa perlakuan. Hasil pengamatan menunjukkan kecenderungan yang sama: semakin tinggi konsentrasi, semakin rendah tingkat serangan kutu daun.

Konsentrasi 70% dinilai paling optimal. Pada perlakuan ini, intensitas serangan kutu daun tercatat 6,06% pada puncak serangan (35 HST), lebih rendah dibandingkan kontrol yang mencapai 22,18% pada 42 HST. Berdasarkan perbandingan tersebut, formulasi 70% mampu menekan serangan lebih dari 80 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.

Sementara itu, konsentrasi 50% juga menunjukkan hasil cukup baik dengan penurunan sekitar 35% dibanding kontrol. Adapun konsentrasi 10% dan 30% dinilai hanya memberikan pengaruh terbatas ketika populasi hama meningkat.

Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa ketiga bahan memiliki senyawa aktif yang saling melengkapi. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) mengandung tanin, flavonoid, saponin, dan triterpenoid yang dapat mengganggu sistem pencernaan serangga serta menghambat pertumbuhan. Daun sirih (Piper betle) mengandung minyak atsiri seperti eugenol, kavikol, dan metil eugenol yang berperan sebagai racun kontak sekaligus penolak makan (antifeedant). Sementara kulit jengkol mengandung tanin, flavonoid, alkaloid, dan asam fenolat yang turut menghambat proses pencernaan serangga kecil seperti kutu daun.

Untuk pembuatan, penelitian ini menggunakan 150 gram daun belimbing wuluh segar, 150 gram daun sirih segar, 150 gram kulit jengkol, serta 450 ml air bersih. Seluruh bahan dicuci, dipotong kecil, lalu diblender bersama air hingga halus. Campuran kemudian didiamkan selama 24 jam dalam wadah tertutup, disaring, dan menghasilkan ekstrak yang siap digunakan. Jika belum dipakai, larutan dapat disimpan dalam lemari pendingin.

Sebelum aplikasi, ekstrak diencerkan hingga konsentrasi 70% dengan perbandingan 70 ml ekstrak dan 30 ml air. Larutan kemudian disemprotkan merata ke seluruh bagian tanaman, termasuk permukaan atas dan bawah daun. Dosis yang digunakan sekitar 50 ml per tanaman pada fase vegetatif dan 100 ml pada fase generatif, dengan frekuensi tiga kali seminggu pada pagi hari.

Selain menekan hama, penelitian ini mencatat keberadaan musuh alami di lapangan tetap ditemukan, seperti kumbang koksi (Coccinella transversalis) dan larva Scymnus sp. yang memangsa kutu daun. Temuan tersebut dinilai sejalan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menekankan pendekatan ramah lingkungan. Berbeda dengan pestisida kimia, pestisida nabati disebut lebih cepat terurai sehingga tidak meninggalkan residu berbahaya pada lingkungan maupun hasil panen.

Peneliti menilai temuan ini membuka peluang pemanfaatan bahan dapur sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan. Dengan memaksimalkan sumber daya lokal, petani berpeluang mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sekaligus menekan biaya produksi tanpa mengurangi efektivitas pengendalian kutu daun.