BANDUNG – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi penopang perekonomian nasional. Namun, riset terbaru menunjukkan banyak pelaku UMKM kuliner masih menghadapi tantangan mendasar yang membuat laju pengembangan bisnis terhambat.
Temuan itu terungkap dalam peluncuran riset “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” hasil kolaborasi Polytron dan lembaga riset Populix di Bandung. Kajian tersebut memotret kondisi pelaku UMKM kuliner dan menyoroti sejumlah asumsi yang kerap diyakini pelaku usaha, tetapi tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan.
Riset mencatat sekitar 80 persen pelaku UMKM berasal dari kelompok perintis usaha. Mayoritas memulai bisnis dengan dorongan untuk mandiri secara ekonomi serta melihat peluang pasar. Dari sisi demografi, lanskap UMKM saat ini didominasi generasi muda, dengan komposisi Gen Z dan milenial sekitar 65 persen.
Meski bersemangat, banyak pelaku usaha masih mengandalkan modal pribadi dan keuntungan usaha sebagai sumber pembiayaan utama. Ketergantungan ini membuat mereka relatif rentan ketika menghadapi tekanan bisnis atau saat membutuhkan dana untuk ekspansi.
Salah satu temuan penting adalah masih kuatnya anggapan bahwa membuka banyak cabang merupakan ukuran utama keberhasilan. Padahal, ekspansi tanpa sistem yang matang dinilai berisiko memunculkan persoalan baru.
Data riset menunjukkan seperempat pelaku UMKM mengaku terkendala karena belum memiliki standar operasional yang jelas. Selain itu, hampir separuh responden masih melakukan pencatatan transaksi secara manual, sehingga keputusan bisnis kerap diambil berdasarkan intuisi.
Riset juga menyoroti rendahnya literasi keuangan. Meski akses pembiayaan sering dianggap sulit, sebagian pelaku usaha dinilai belum memahami prosedur pengajuan pinjaman maupun pentingnya pencatatan keuangan yang rapi sebagai syarat memperoleh pendanaan dari lembaga keuangan formal.
Dari sisi operasional, tantangan terbesar tidak hanya terkait modal, tetapi juga pengelolaan sumber daya manusia. Banyak UMKM mikro hanya memiliki satu hingga dua karyawan yang harus menangani berbagai pekerjaan sekaligus. Kondisi ini dapat mengganggu pelayanan ketika permintaan pelanggan meningkat.
Pakar Sistem Operasional Industri dan Digital Marketing dari Telkom University, Dr. Ir. Yati Rohayati, M.T., menilai pelaku usaha perlu mulai meninggalkan pola kerja yang sepenuhnya manual, Jumat (19/06/2026). Menurut dia, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar bisnis mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan.
“Pelaku UMKM perlu membangun sistem operasional yang sederhana tetapi tertata. Mulai dari pencatatan transaksi, pengelolaan stok, hingga pelayanan pelanggan harus bisa dipantau secara lebih efisien,” ujarnya dalam workshop yang dihadiri ratusan pelaku UMKM di Bandung.
Selain digitalisasi operasional, pelaku usaha juga didorong memanfaatkan strategi omnichannel, yakni mengintegrasikan berbagai kanal penjualan mulai dari toko fisik, media sosial, aplikasi pesan instan, hingga platform pesan antar makanan. Pendekatan ini dinilai dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan peluang pembelian berulang.
Sejumlah pelaku usaha disebut telah menerapkan praktik tersebut, antara lain melalui pemanfaatan sistem kasir digital, pengelolaan hubungan pelanggan, serta integrasi stok di berbagai kanal penjualan.
Riset turut menggarisbawahi biaya tersembunyi yang kerap luput dari perhatian, yakni kerugian akibat kerusakan peralatan usaha. Banyak pelaku bisnis mengaku mengalami kerugian ganda saat alat produksi rusak karena salah penggunaan, mulai dari biaya perbaikan hingga terganggunya operasional.
Karena itu, pelaku UMKM disarankan lebih cermat dalam memilih aset pendukung usaha, tidak semata mengejar harga termurah, melainkan mempertimbangkan daya tahan, efisiensi, dan manfaat jangka panjang.
Secara keseluruhan, temuan riset menunjukkan proses “naik kelas” UMKM tidak hanya ditentukan oleh omzet atau jumlah cabang. Keberhasilan dinilai lebih bergantung pada kemampuan membangun sistem yang kuat, mengelola operasional secara efisien, memanfaatkan teknologi, serta mengambil keputusan berbasis data. Di tengah persaingan yang kian kompetitif, perubahan cara berpikir dan cara mengelola usaha menjadi faktor penting agar UMKM dapat tumbuh lebih berkelanjutan.

