Nama Rif Dirtyblues mungkin belum akrab bagi sebagian orang. Namun di kalangan pecinta dan musisi blues, khususnya di Yogyakarta, pria kelahiran Bima ini dikenal lewat karakter permainannya. Rif memiliki nama asli Syarif Hidayatullah.
Dalam perbincangan di Lapangan Serasuba, Kota Bima, Rif bercerita tentang perjalanan bermusiknya yang berawal dari ketertarikan pada berbagai genre. Ia mengaku sempat tidak berpikir akan serius bermain blues karena menyukai “all genre”. Seiring waktu, ia mulai mencari karakter bermusik dan beberapa kali membentuk band di Yogyakarta, meski tidak bertahan lama.
Awal Bertemu Blues
Rif menuturkan titik penting perjalanannya terjadi sekitar 2006, saat ia diajak seorang kawan ke MJ Studio di Yogyakarta. Di sana, pemilik studio melihat kemampuannya bermain gitar dan memintanya mengisi suara gitar untuk sebuah lagu yang direkam.
Menurut Rif, pada momen itu hadir Nico Ringger—yang pernah bersama band rock Indonesia Power Slaves—yang kemudian memberi komentar tentang karakter permainannya. Rif menirukan kalimat Nico yang menyebut bahwa permainannya lebih cocok pada karakter tertentu, bukan “all genre”.
Ucapan tersebut membuat Rif berpikir. Setelah berdiskusi dan banyak bertanya, ia merasa semakin nyaman di blues. Ia menyebut proses itu menguat sekitar 2008, ketika Nico banyak mengenalkannya pada blues bukan dari sisi teknik, melainkan “rasa”. Bagi Rif, blues menuntut kejujuran dalam mengekspresikan perasaan dan bermain dengan apa adanya.
Blues sebagai Cara Bercerita
Rif memandang blues sebagai media bercerita—teman bicara yang menampung pengalaman yang dilihat dan dirasakan. Meski ia menyadari blues bukan tradisi musik Indonesia, baginya blues telah menjadi bagian dari gaya hidup.
Manggung dan Fokus Karier Solo
Setelah memusatkan diri pada blues, Rif mengaku aktivitas bermusiknya berkembang. Di tengah kuliah S1 Psikologi di salah satu universitas di Yogyakarta, ia berusaha membagi waktu antara studi dan jadwal manggung. Ia menyebut kesempatan tampil sudah merambah sejumlah kota besar, seperti Jakarta serta beberapa wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Meski masih kerap menerima tawaran tampil, Rif mengatakan saat ini ia memberi perhatian pada rencana pembuatan album solo.
Album “Feel” dan Rencana Mini Album
Rif yang melanjutkan studi Magister Profesi Psikologi Klinis di Yogyakarta menyebut sebelumnya ia pernah merilis album bersama teman-teman band indie. Dalam karier solonya, ia baru merilis satu album berjudul Feel.
Album Feel dirilis pada 2014 dan tidak diproduksi massal, hanya beberapa puluh kopi. Rif menyebut album itu berisi delapan lagu, di antaranya:
- Belum Terlambat
- Dira
- Lagi Bosan
- Bingung
- Esok Masih Ada Blues
- Lonely Man
Ia mengatakan proses pengerjaan album itu ia urus sendiri, dengan materi yang bersumber dari pengalaman pribadi—apa yang ia lihat dan rasakan. Ke depan, Rif berencana membuat mini album bertema Bima, tetap dalam genre blues atau delta blues.
Punya Efek Gitar dengan Namanya
Selain bermusik, Rif juga bercerita pernah terlibat dalam pembuatan efek gitar yang kemudian dijual di pasaran. Ia mengisahkan awalnya diajak teman untuk berkenalan dengan seseorang yang memiliki efek gitar, lalu bergabung dalam perkumpulan gitaris di Yogyakarta yang saat itu membahas efek lokal Indonesia.
Setelah Rif mendemonstrasikan permainan gitarnya, ia mendapat janji akan dibuatkan efek. Efek tersebut adalah seri “Screamer” dan, menurut Rif, pada produk itu juga tertulis namanya. Ia menyebut peristiwa itu terjadi pada 2011.
Prinsip Bermusik: Jujur dan Apa Adanya
Di akhir perbincangan, Rif menegaskan prinsipnya untuk tidak takut memainkan musik yang berbeda dan tetap bermusik dengan apa adanya. Ia mengatakan fokusnya adalah menyampaikan ekspresi tentang jiwa dan rasa, terlepas dari apakah orang menyukai musik yang ia mainkan atau tidak.

