Tren tarian yang dijuluki warganet sebagai “Aura Farming” menarik perhatian luas di media sosial dan merambah ke berbagai tokoh internasional. Perhatian itu menguat setelah akun resmi klub sepak bola Prancis Paris Saint-Germain (PSG) mengunggah video selebrasi para pemain yang menirukan gerakan khas tarian tersebut, Rabu, 2 Juli 2025, dengan keterangan “Auranya sampai ke Paris.”
Setelah itu, maskot klub Italia AC Milan turut meramaikan tren dengan menirukan gerakan yang sama disertai tulisan bernuansa humor, “Aura Farming 1899% accuracy.” Rapper KSI juga ikut menarikan gaya tersebut. Sementara Travis Kelce, bintang NFL yang juga disebut sebagai kekasih Taylor Swift, menggunakan tarian itu saat berhasil mencetak touchdown dan mengunggah video kompilasi yang disertai tulisan “Auranya sudah dibudidayakan.”
Fenomena ini kemudian menyebar luas di TikTok. Ribuan pengguna dari berbagai negara—mulai dari influencer, pelajar, hingga akun resmi perusahaan—ikut menirukan gerakan tarian yang viral tersebut. Di balik tren itu, sosok yang menjadi pusat perhatian adalah seorang anak penari Pacu Jalur dari Riau.
Anak yang viral itu bernama Rayyan Arkan Dikha, akrab disapa Dika. Ia berusia 9 tahun dan berasal dari Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Dika merupakan penari Pacu Jalur—olahraga tradisional mendayung—untuk tim dayung Tuah Koghi.
Dalam video yang diunggah akun TikTok KITA GROUP IDN, disebutkan Dika mulai menari di ajang Pacu Jalur sejak 2024. Ia menggantikan posisi kakaknya yang kini menjadi salah satu pemacu atau pendayung perahu. Penampilannya yang energik dan ekspresif membuatnya cepat dikenal warganet. Ia juga kerap dijuluki “black shirt on boat” atau “baju hitam di atas perahu” karena gaya khasnya saat menari mengenakan pakaian adat Melayu berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitam.
Popularitas Dika juga menembus luar negeri. Ia sempat diwawancarai influencer asal Amerika Serikat, Cullen Honohan, melalui akun media sosial All Hail Cullen. Dalam wawancara itu, Cullen menyebut Dika dijuluki “The Reaper” karena dianggap mampu “mengambil jiwa” lawan lewat penampilan tarinya yang penuh semangat. Dika menanggapi dengan mengatakan ia senang dengan julukan tersebut.
Ketika ditanya soal pengalamannya menari di ujung perahu yang melaju kencang, Dika menjawab singkat, “Tetap berani dan percaya diri.” Ia juga menyampaikan bahwa dirinya bukan penari Pacu Jalur terbaik karena masih ada orang lain yang, menurutnya, lebih hebat.
Pacu Jalur sendiri merupakan tradisi yang berakar panjang di Kuansing. Mengacu pada laman resmi kuansing.go.id, pada abad ke-17 jalur—perahu panjang tradisional—dipakai masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan sebagai alat transportasi utama. Sungai tersebut membentang dari Kecamatan Hulu Kuantan hingga Kecamatan Cerenti. Saat itu, jalur dapat mengangkut 40 hingga 60 orang dan digunakan untuk membawa hasil bumi seperti pisang dan tebu.
Dalam perkembangannya, masyarakat menggelar perlombaan adu kecepatan antarjalur yang kemudian dikenal sebagai Pacu Jalur. Awalnya, lomba ini digelar untuk memperingati hari besar umat Islam. Pada masa penjajahan Belanda, tradisi tersebut dimanfaatkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap 31 Agustus. Setelah Indonesia merdeka, Pacu Jalur menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan pada bulan Agustus.
Perlombaan biasanya berlangsung dua hingga tiga hari, bergantung pada jumlah jalur yang ikut serta. Jalur dibuat dari satu batang pohon utuh, dapat mencapai panjang 25 hingga 40 meter, dan berkapasitas 45–60 pendayung atau anak pacu.
Setiap jalur memiliki formasi kru yang khas, antara lain tukang concang (pemberi aba-aba), tukang pinggang (juru mudi), tukang tari (penari pemberi semangat dan atraksi), serta tukang onjai (penjaga irama di buritan dengan menggoyangkan badan). Penampilan kostum yang mencolok, dentuman meriam, teriakan penyemangat, dan sorak penonton menjadi bagian dari kemeriahan tradisi ini.
Melalui viralnya tarian Dika, perhatian publik dunia ikut tertuju pada Pacu Jalur dan tradisi yang menyertainya. Nama Dika pun kini dikenal lebih luas, dari Kuansing hingga panggung media sosial global.

