Tren membuat “daging kering matahari” ramai dibagikan warganet di media sosial, menyusul gelombang panas yang melanda Hanoi pada akhir Mei. Dalam periode tersebut, suhu luar ruangan dilaporkan sempat melebihi 40 derajat Celcius.
Unggahan yang beredar memperlihatkan potongan daging digantung di tali jemuran atau diletakkan di ruang terbuka di bawah terik matahari. Meski teknik pengeringan dengan sinar matahari dikenal dalam berbagai olahan tradisional—seperti daging sapi kering, ikan kering, dan produk sejenis—kali ini banyak orang melakukannya terutama untuk mengikuti tren dan bersenang-senang, bukan berdasarkan prosedur pengolahan pangan yang benar.
Sejumlah ahli memperingatkan bahwa praktik menjemur daging di bawah sinar matahari dapat memicu risiko infeksi bakteri. Profesor Madya Dr. Nguyen Duy Thinh dari Institut Bioteknologi dan Pangan, Universitas Sains dan Teknologi Hanoi, menilai metode tersebut keliru. Menurutnya, suhu 40 derajat Celcius tidak cukup untuk membunuh bakteri atau memasak makanan. Ia menjelaskan sinar matahari yang intens hanya memengaruhi lapisan luar, sementara bagian dalam tetap dingin dan mentah. Kondisi “panas di luar, dingin di dalam” ini dinilai ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang biak, sehingga bahan makanan dapat rusak sebelum layak dikonsumsi.
Dr. Le Van Thieu dari Rumah Sakit Pusat untuk Penyakit Tropis menambahkan, suhu 35–40 derajat Celcius yang dikombinasikan dengan kelembapan tinggi dapat merangsang pertumbuhan cepat patogen seperti Salmonella, E. coli, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus. Konsumsi produk yang terkontaminasi bakteri tersebut berisiko menyebabkan keracunan makanan, sakit perut, diare, dan demam tinggi. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pasien dengan kondisi kesehatan tertentu disebut lebih berisiko mengalami dehidrasi berat yang dapat berkembang cepat menjadi sepsis.
Di sisi lain, sebagian orang beranggapan risiko bisa hilang dengan memanaskan kembali daging setelah dijemur. Namun para ahli mengingatkan, selama proses pengeringan yang berlangsung lama bakteri tetap dapat berkembang biak, membuat makanan membusuk dan meningkatkan risiko keracunan bila penyimpanan atau pengolahannya tidak tepat.
Para pakar juga menekankan bahwa tren ini tidak dapat disamakan dengan metode pengawetan tradisional yang memiliki prosedur lebih ketat. Dosen Universitas Sains dan Teknologi Hanoi, Dr. Vu Thi Tan, menjelaskan ikan kering yang dijemur umumnya diiris tipis, diproses dalam lingkungan asin, dan direndam garam dalam jumlah memadai untuk menghambat bakteri. Sementara pada tren yang beredar, banyak orang hanya menggantung potongan ikan atau daging yang tebal di bawah matahari tanpa perendaman garam atau pengawet yang cukup.
Menurut para ahli, bahkan makanan kering yang dijual di pasaran pun seharusnya melewati tahapan pengolahan dan pengawetan yang menyeluruh, termasuk langkah pencegahan serangga serta pengendalian mikroorganisme. Mereka juga membandingkan dengan teknik tradisional lain—seperti menggoreng daging lalu merendamnya dalam minyak atau mengasapi—yang memiliki mekanisme tersendiri untuk membatasi pertumbuhan bakteri, dan berbeda dari sekadar menjemur daging beberapa jam.
Untuk menyiapkan makanan yang dikeringkan di bawah sinar matahari dengan lebih aman, para ahli menyarankan daging diiris tipis, direndam menyeluruh dengan garam dan rempah-rempah, serta disimpan dengan benar di freezer setelah disiapkan. Mereka juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengikuti tren pengolahan makanan spontan di media sosial secara membabi buta, terutama saat cuaca panas ekstrem.
Dr. Vu Thi Tan menegaskan prinsip dasar menjaga kesehatan tetap mengacu pada konsumsi makanan yang dimasak dan minum air yang direbus. Selain itu, makanan perlu disimpan pada suhu yang tepat serta diproses dalam kondisi higienis dan aman.

