Perancangan pusat wisata kuliner lokal di Larantuka diarahkan untuk menghasilkan kawasan yang responsif terhadap kondisi tapak, fungsional bagi aktivitas pengunjung dan pelaku usaha, serta merefleksikan nilai budaya Lamaholot secara kontemporer melalui pendekatan arsitektur neo-vernakular.
Tapak kajian berada di kawasan pesisir Kota Larantuka dengan karakter ruang linier mengikuti kontur pantai Selat Flores. Kondisi topografi relatif datar dengan kemiringan rendah, sehingga memungkinkan pengembangan massa bangunan dilakukan secara lebih fleksibel. Lingkungan sekitar didominasi fungsi perdagangan, jasa, serta aktivitas kuliner skala kecil yang tersebar di sepanjang jalur utama kota.
Dalam aspek iklim, arah angin dominan datang dari utara hingga timur laut. Sementara itu, penyinaran matahari lebih intens di sisi timur dan barat. Kondisi tersebut menjadikan strategi orientasi bangunan, pengaturan bukaan, serta penghawaan alami sebagai pertimbangan utama dalam perancangan.
Kedekatan tapak dengan jalur sirkulasi utama kota dinilai mendukung aksesibilitas, baik bagi wisatawan harian maupun pengunjung religi, khususnya pada masa Semana Santa. Aktivitas masyarakat pesisir serta keberadaan UMKM kuliner turut dipandang sebagai potensi untuk mengintegrasikan program ruang secara langsung dengan kegiatan ekonomi lokal.
Selain itu, iklim tropis kering menuntut pemilihan material yang tahan panas, penyediaan peneduhan kawasan, dan ruang terbuka yang adaptif. Secara keseluruhan, karakter tapak dinilai mendukung pengembangan pusat wisata kuliner yang peka terhadap iklim, budaya lokal, dan pola mobilitas masyarakat Larantuka.
Dalam proses penentuan lokasi, dilakukan identifikasi dan analisis terhadap beberapa alternatif tapak di kawasan perkotaan Larantuka. Pemilihan tapak didasarkan pada kesesuaian fungsi, potensi ruang, aksesibilitas, serta relevansi dengan tujuan pengembangan pusat wisata kuliner berbasis potensi lokal. Parameter analisis mencakup akses transportasi, karakter lingkungan sekitar, potensi ekonomi, serta keterjangkauan bagi masyarakat dan wisatawan.
Hasilnya, tapak di Jl. Yoakim B.I Derosari, Lokea, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur—yang dikenal sebagai kawasan taman kota Larantuka—dipilih sebagai lokasi perancangan. Tapak seluas 1,3 hektare ini berada dekat pusat kota dan memiliki akses langsung ke jalan utama. Keunggulan lokasi tersebut terletak pada tingginya intensitas aktivitas masyarakat, yang dinilai berpotensi menarik kunjungan wisatawan dan mendukung pelaku UMKM.
Tapak ini juga dinilai menawarkan keseimbangan antara ketersediaan ruang, kondisi lingkungan yang mendukung, serta kedekatan dengan pusat aktivitas kota. Tingkat keramaian dan karakter sosial masyarakat setempat dipandang dapat menunjang pengembangan kawasan wisata kuliner yang inklusif, edukatif, dan berkelanjutan. Namun, keterbatasan luasan dan tekanan terhadap ruang akibat kepadatan aktivitas komersial disebut menjadi tantangan dalam pengembangan skala kawasan.

