Perancangan Pusat Wisata Kuliner Lokal di Larantuka mengusung pendekatan arsitektur neo-vernacular Lamaholot untuk menghadirkan identitas ruang yang berakar pada budaya setempat, sekaligus tetap relevan dengan kebutuhan fungsional masa kini. Pendekatan ini dilakukan dengan mengadaptasi nilai, bentuk, struktur, dan material tradisional Lamaholot melalui proses reinterpretasi, sehingga desain yang dihasilkan mencerminkan kesinambungan antara tradisi dan modernitas.
Pada bangunan utama, inspirasi diambil dari arsitektur korke, rumah adat Lamaholot yang memiliki makna simbolis sebagai pusat aktivitas dan identitas komunal. Sejumlah elemen penting dari korke diintegrasikan ke dalam rancangan, antara lain bentuk atap yang menjulang sebagai simbol hubungan antara manusia dan alam, penggunaan material kayu sebagai elemen utama, serta penerapan sistem struktur tradisional berupa balok ikat tumpuk yang mencerminkan teknik konstruksi lokal. Karakter visual seperti motif kolom, bentuk kolom tradisional, dan struktur panggung juga diterapkan untuk memperkuat kesan vernakular, sekaligus meningkatkan performa bangunan terhadap kondisi tapak pesisir yang lembap.
Sementara itu, bangunan pendukung dirancang melalui reinterpretasi bentuk dan fungsi lumbung tradisional Lamaholot yang dikenal sebagai kebang. Dibandingkan korke, kebang memiliki karakter arsitektur yang lebih sederhana, namun tetap memuat nilai fungsional dan simbolik. Dalam rancangan bangunan pendukung, elemen khas seperti bentuk atap, struktur panggung, bentuk kolom, serta penggunaan material kayu diterapkan untuk membangun kesatuan visual kawasan. Struktur panggung juga disebut memberikan keuntungan fungsional, termasuk mitigasi banjir dan peningkatan sirkulasi udara alami pada area bawah bangunan.
Penataan ruang luar mengadopsi pola tata ruang permukiman tradisional Lamaholot yang bersifat sentris. Dalam pola ini, ruang komunal ditempatkan sebagai pusat aktivitas, sementara zona pendukung mengelilinginya secara teratur. Penerapan pola ruang sentris dinilai menciptakan orientasi ruang yang jelas, memperkuat kohesi visual, serta memfasilitasi interaksi sosial sebagaimana karakter perkampungan Lamaholot. Pola tersebut kemudian disesuaikan dengan kebutuhan kawasan wisata kuliner agar lanskap yang terbentuk tetap fungsional dan terarah, tanpa melepaskan nilai budayanya.
Seluruh transformasi elemen korke, kebang, dan pola permukiman sentris dilakukan melalui reinterpretasi, bukan reproduksi literal. Setiap elemen disesuaikan dengan standar konstruksi modern, kenyamanan pengguna, dan estetika kontemporer. Dengan pendekatan itu, kawasan dirancang tidak hanya sebagai pusat wisata kuliner, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya dan pelestarian warisan arsitektur Lamaholot.
Dalam sintesis rancangan, Pusat Wisata Kuliner Lokal Larantuka disebut sebagai hasil integrasi analisis kebutuhan fungsional, karakteristik pengguna, konteks tapak, serta nilai-nilai arsitektur vernakular Lamaholot yang diidentifikasi pada tahap kajian. Proses perancangan menekankan bahwa keberhasilan kawasan tidak hanya ditentukan oleh fungsi komersial dan rekreatif, tetapi juga oleh kemampuan desain menghadirkan ruang yang merepresentasikan identitas budaya lokal serta responsif terhadap lingkungan pesisir.

