Perancangan Pusat Wisata Kuliner Lokal di Larantuka menempatkan kebutuhan ruang yang beragam sebagai dasar penyusunan program dan zonasi kawasan. Analisis fungsional menunjukkan pelaku kegiatan yang terlibat tidak hanya pengelola dan UMKM kuliner, tetapi juga pengunjung umum, wisatawan, pengunjung religi, serta massa dalam festival tahunan seperti Semana Santa dan Bale Nagi. Keragaman ini menuntut rancangan yang fleksibel, memiliki pola sirkulasi yang jelas, dan mampu mengakomodasi aktivitas harian maupun kegiatan berskala besar.
Hasil analisis tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pembentukan massa bangunan yang efisien dan saling terhubung. Integrasi kebutuhan tiap kelompok menjadi acuan untuk merancang ruang-ruang yang terarah, sekaligus memastikan pembagian zonasi tetap adaptif terhadap perubahan intensitas kunjungan.
Dari sisi arsitektural, perancangan mengangkat transformasi elemen vernakular Lamaholot ke dalam pendekatan neo-vernakular. Analisis bentuk menyimpulkan bangunan utama dinilai paling tepat merepresentasikan simbol arsitektur korke, sementara bangunan pendukung mengadopsi karakter kebang atau lumbung. Transformasi dilakukan melalui adaptasi elemen kunci, seperti bentuk atap, struktur panggung, material kayu, sistem ikat, serta detail kolom, dengan penerapan metode konstruksi modern.
Pendekatan tersebut menegaskan bahwa nilai vernakular dapat diterapkan secara menyeluruh tanpa mengorbankan aspek fungsional maupun standar arsitektur kontemporer. Identitas budaya tetap hadir melalui simbol dan karakter bentuk, sementara kebutuhan operasional ruang dirancang mengikuti dinamika aktivitas di kawasan.
Selain bangunan, tata lansekap juga diposisikan sebagai elemen penting dalam memperkuat identitas budaya. Sintesis rancangan menunjukkan pola permukiman Lamaholot yang sentris dapat diterapkan sebagai pola penataan kawasan. Pola ini diarahkan untuk menciptakan ruang luar yang komunikatif, berorientasi pada aktivitas publik, dan tetap menjaga keterbacaan budaya lokal.
Penerapan pola sentris dinilai meningkatkan kohesi ruang, mempermudah navigasi pengunjung, serta membangun hubungan visual yang harmonis antarbangunan. Dengan demikian, pengalaman ruang tidak hanya ditentukan oleh fungsi, tetapi juga oleh narasi budaya yang terbentuk melalui hubungan antara massa bangunan dan ruang luar.
Secara keseluruhan, rancangan merangkum tiga temuan utama. Pertama, kompleksitas kebutuhan ruang dapat dijawab melalui pendekatan fungsional dan program ruang yang terstruktur sehingga zonasi tetap adaptif untuk kunjungan harian maupun agenda besar. Kedua, transformasi arsitektur vernakular Lamaholot memberi identitas kuat pada kawasan, sekaligus menunjukkan elemen tradisional dapat diterapkan dalam desain modern tanpa kehilangan nilai simbolis. Ketiga, penerapan pola lanskap sentris Lamaholot memperkaya pengalaman ruang dan memperkuat narasi budaya yang dihadirkan.
Kesimpulan penelitian menyatakan pendekatan arsitektur neo-vernakular Lamaholot efektif untuk merumuskan rancangan Pusat Wisata Kuliner Lokal Larantuka yang memenuhi kebutuhan fungsional sekaligus mengintegrasikan nilai budaya dalam desain kontemporer. Kebaruan yang disorot terletak pada formulasi sintesis desain yang mengadaptasi elemen korke—seperti bentuk atap, struktur panggung, sistem balok ikat tumpuk, dan karakter material kayu—pada bangunan utama, serta elemen kebang pada bangunan pendukung, disertai penerapan pola tata ruang sentris permukiman Lamaholot pada rancangan lanskap.
Rancangan yang dihasilkan diproyeksikan tidak hanya memenuhi kebutuhan wisata kuliner, tetapi juga berperan sebagai model pelestarian budaya, wadah edukasi, dan representasi arsitektur lokal yang kontekstual serta berkelanjutan. Penelitian ini juga membuka peluang kajian lanjutan, terutama terkait evaluasi performa desain neo-vernakular dalam operasional kawasan wisata maupun pengembangan interpretasi arsitektur Lamaholot pada tipologi bangunan lainnya.
Dalam bagian penutup, penulis menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung proses penelitian, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Flores Timur yang memberikan izin dan akses data, serta narasumber, masyarakat, dan pelaku kuliner lokal yang berbagi informasi dan wawasan. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada tim yang membantu observasi lapangan, wawancara, dan pengumpulan data.

