Di tengah maraknya restoran Jepang modern yang hadir di pusat perbelanjaan, Ramen Eiko di kawasan Banyumanik, Kota Semarang, memilih mempertahankan konsep berbeda. Kedai ramen ini tetap bertahan sebagai warung sederhana dengan konsep Yatai atau street food Jepang untuk menjaga suasana khas kuliner jalanan.
Pemilik Ramen Eiko, Teddy Cahyo Nugroho, mengatakan peluang membuka cabang di mal sebenarnya cukup terbuka. Namun hingga kini, ia memilih menjaga konsep awal yang dibangun sejak merintis usaha tersebut.
“Kalau di mal, ruh street food itu malah enggak dapat,” ujar Teddy saat ditemui di kedainya di Jalan Bumirejo Raya, Gedawang, Kamis (21/5/2026).
Menurut Teddy, konsep Yatai bukan sekadar menjual ramen, melainkan menghadirkan pengalaman makan yang sederhana, dekat, dan interaktif seperti budaya kuliner jalanan di Jepang. Karena itu, Ramen Eiko mempertahankan konsep open kitchen dan live cooking agar pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan ramen hingga siap disajikan.
Untuk menjaga kualitas, Teddy menerapkan pembatasan penjualan hingga 50 porsi per hari. Mi dibuat segar setiap hari menggunakan bahan baku pilihan agar rasa dan teksturnya tetap konsisten. Kebijakan ini membuat pengunjung perlu datang lebih awal agar tidak kehabisan.
“Takutnya malah berantakan, malah bumerang. Kita pengennya bangun ekosistem baru,” lanjutnya.
Di balik konsep tersebut, Ramen Eiko juga menghadapi tantangan terkait bahan baku impor. Sekitar 70 persen bahan dasar, seperti shoyu dan pasta ramen, masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini membuat fluktuasi nilai tukar dolar berpengaruh pada biaya produksi.
Meski demikian, Teddy menyebut telah menyiapkan strategi agar harga tetap stabil dan terjangkau bagi pelanggan, termasuk melalui perhitungan cadangan biaya dan dukungan pemasok.
“Ngomongin masalah kurs dolar karena barang impor ya pasti ada. Makanya kita sudah ada saving estimasi dan supplier yang bisa jaga stabilitas harga,” jelasnya.
Bagi Teddy, mempertahankan identitas street food dinilai lebih penting dibanding memperluas bisnis secara cepat. Ia ingin Ramen Eiko tumbuh sebagai ruang kuliner dengan karakter kuat di tengah perkembangan kuliner Jepang di Semarang, tanpa kehilangan ruh street food yang menjadi ciri utamanya.

