Bepergian tidak hanya soal mengunjungi tempat baru, tetapi juga mengenal budaya setempat. Salah satu cara yang kerap dianggap penting adalah mencicipi kuliner lokal. Namun, tidak semua pelancong nyaman melakukan hal tersebut. Sebagian orang justru cenderung menghindari hidangan khas daerah yang dikunjungi dan memilih makanan yang sudah familiar.
Menurut ulasan yang dikutip dari Geediting, ada sejumlah perilaku yang kerap muncul pada orang-orang yang jarang mencoba kuliner lokal saat traveling. Mereka cenderung bertahan pada makanan yang sudah “teruji” dibandingkan menjajal sesuatu yang baru.
1. Takut pada hal yang tidak diketahui
Sebagian orang merasa keluar dari zona nyaman adalah hal yang berat, termasuk dalam urusan makanan ketika bepergian. Pelancong yang menghindari kuliner lokal disebut dapat memiliki ketakutan terhadap hal-hal yang tidak dikenalnya. Dalam pandangan psikologi, perilaku ini dikaitkan dengan naluri dasar untuk bertahan hidup.
Bagi mereka, memilih makanan yang sudah dikenal dapat memberikan rasa aman. Sikap ini dinilai mengurangi risiko mencoba sesuatu yang baru, seperti kekhawatiran tidak menyukai rasanya atau takut mengalami reaksi yang merugikan.
2. Kebutuhan untuk mengendalikan
Ada pula pelancong yang rela menghabiskan waktu lama untuk mencari restoran yang menyediakan makanan familiar, alih-alih mencoba hidangan khas setempat. Dalam ulasan tersebut, kecenderungan ini dikaitkan dengan kebutuhan untuk merasa lebih mampu mengendalikan situasi saat bepergian.
Kebutuhan untuk mengontrol dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari memilih makanan yang sudah dikenal hingga menjalankan rutinitas dan rencana perjalanan yang ketat. Ulasan itu juga mengutip pernyataan psikolog Carl Jung yang menyebut bahwa hal-hal yang membuat seseorang jengkel terhadap orang lain bisa menjadi petunjuk untuk memahami diri sendiri.
3. Pengaruh pola asuh
Faktor lain yang disebut berperan adalah latar belakang keluarga. Pelancong yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mendorong mencoba makanan baru, dinilai lebih mungkin mempertahankan kebiasaan yang sama saat dewasa, termasuk ketika bepergian. Akibatnya, mereka cenderung memilih makanan yang sudah dikenal.
Ulasan tersebut turut mengutip pemikiran psikolog Erik Erikson yang menekankan pentingnya saling ketergantungan dalam kehidupan. Dalam konteks ini, pola asuh dan kebiasaan keluarga disebut dapat memengaruhi cara seseorang merespons pengalaman baru, termasuk saat berhadapan dengan kuliner lokal.
Artikel rujukan menyebut ada tujuh perilaku terkait, namun data yang tersedia dalam materi ini memuat tiga poin di atas.

