BERITA TERKINI
Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Selama Ramadan dengan Skema Adaptif

Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Selama Ramadan dengan Skema Adaptif

Bulan Ramadan membawa perubahan besar pada pola makan keluarga, termasuk anak-anak usia sekolah yang sedang berada dalam fase pertumbuhan. Di tengah pembatasan waktu makan yang bergeser ke sahur dan berbuka, pemenuhan gizi seimbang menjadi perhatian karena berpengaruh pada perkembangan fisik, kognitif, serta daya tahan tubuh anak.

Pemerintah menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berlanjut selama Ramadan dengan penyesuaian mekanisme distribusi. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengatakan MBG tetap dibagikan dengan empat skema yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik di sekolah hingga lingkungan pesantren agar pelaksanaannya tetap optimal.

Skema pertama diterapkan di sekolah pada daerah dengan mayoritas siswa berpuasa. Makanan tetap dikirim ke sekolah, namun dalam bentuk menu yang lebih tahan lama dan dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka. Skema ini ditujukan agar anak tetap memperoleh asupan gizi tanpa mengganggu ibadah puasa sekaligus meminimalkan potensi pemborosan makanan.

Skema kedua berlaku di sekolah pada daerah dengan mayoritas siswa tidak berpuasa. Dalam kondisi ini, layanan MBG berjalan normal tanpa perubahan distribusi. Skema ketiga memastikan program MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita tetap berjalan seperti biasa selama Ramadan mengingat kebutuhan gizi kelompok ini bersifat khusus dan berkelanjutan. Sementara skema keempat diterapkan di pesantren dengan menyesuaikan sistem pendidikan serta pola konsumsi santri.

Dari sisi komposisi, MBG selama Ramadan tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang. Protein dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, karbohidrat kompleks menjadi sumber energi yang lebih stabil selama berpuasa, lemak sehat berfungsi sebagai cadangan energi, sementara vitamin dan mineral membantu menjaga daya tahan tubuh di tengah perubahan pola tidur dan aktivitas.

Dokter medis sekaligus edukator kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Muhammad Fajri Adda’i, menekankan bahwa MBG pada Ramadan tidak hanya soal pembagian makanan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi nutrisi bagi anak. Menurutnya, pemenuhan gizi tetap krusial untuk menjaga kondisi fisik dan mental anak selama menjalani ibadah puasa.

Selain dampak kesehatan, program ini juga dikaitkan dengan kesiapan belajar. Anak dengan asupan gizi yang baik disebut cenderung memiliki konsentrasi lebih stabil, tidak mudah lelah, dan dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih optimal meski sedang berpuasa, terutama karena kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung selama Ramadan dengan penyesuaian waktu.

MBG juga dipandang berperan dalam menjaga pemerataan akses pangan bergizi. Ramadan kerap memperlihatkan perbedaan kemampuan keluarga dalam menyediakan makanan sehat. Melalui program ini, pemerintah menargetkan agar setiap anak tetap memperoleh akses makanan bergizi tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, sejalan dengan nilai kepedulian dan solidaritas sosial yang melekat pada Ramadan.

Komitmen keberlanjutan MBG selama Ramadan turut ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Ia menyampaikan program tetap berjalan dan distribusinya akan disesuaikan dengan situasi serta kondisi di lapangan. Ia juga menyebut MBG bagi siswa beragama Islam disediakan dalam bentuk menu makanan kering yang dapat dibawa pulang.

Pelaksanaan program disebut membutuhkan koordinasi antara sekolah, penyedia makanan, dan pemerintah daerah agar penyaluran tepat sasaran serta sesuai kebutuhan lokal. Dengan skema yang adaptif, MBG selama Ramadan diharapkan tetap menjaga pemenuhan gizi anak sekaligus memperkuat kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang di tengah perubahan pola makan selama bulan puasa.