Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan penyesuaian pola distribusi. Pemerintah menilai program ini penting untuk memastikan anak-anak usia sekolah tetap memperoleh asupan gizi seimbang saat waktu makan terbatas karena berpuasa.
Selama Ramadan, perubahan pola makan kerap terjadi, mulai dari jadwal makan yang lebih singkat hingga kecenderungan mengonsumsi makanan tinggi gula saat berbuka. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi energi dan aktivitas anak, termasuk saat belajar. Dalam konteks itu, MBG diarahkan untuk membantu menjaga keseimbangan nutrisi melalui menu yang mencakup karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, serat, serta vitamin dan mineral.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan distribusi MBG selama Ramadan akan disesuaikan. MBG dibagikan dalam bentuk makanan kering yang dapat dikondisikan untuk dikonsumsi saat sahur maupun berbuka. Skema ini memberi fleksibilitas bagi keluarga untuk mengatur waktu konsumsi sesuai kebutuhan.
Selain pemenuhan gizi, program ini juga membawa aspek edukasi mengenai pola makan sehat. Melalui sosialisasi menu seimbang dan pengawasan kualitas pangan, anak-anak diperkenalkan pada pentingnya protein untuk pertumbuhan, zat besi untuk mencegah anemia, serta kecukupan cairan agar konsentrasi tetap terjaga selama berpuasa.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan pihaknya meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih kreatif memanfaatkan pangan lokal. Ia juga mendorong pengurangan penggunaan produk pabrikan atau ultra processed food (UPF) dalam pelaksanaan MBG selama Ramadan. Menurutnya, menu berbasis kearifan lokal perlu diperbanyak agar penyajian MBG tetap sehat dan aman dikonsumsi saat bulan puasa.
Pelaksanaan MBG Ramadan juga dikaitkan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan publik. Penyaluran makanan bergizi secara terstruktur dinilai tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga melibatkan rantai pasok pangan lokal, termasuk petani, peternak, pelaku UMKM katering, hingga distribusi logistik.
Meski demikian, program berskala besar tetap memerlukan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan. Pemerintah menekankan bahwa penyesuaian pelaksanaan MBG di bulan suci diharapkan dapat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menjaga tujuan utama program, yakni memperkuat kualitas gizi anak sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

