Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai kian menegaskan perannya sebagai strategi negara untuk memperkuat fondasi kesehatan masyarakat. Program ini tidak hanya dipahami sebagai penyediaan makanan, tetapi juga sebagai upaya memastikan kelompok yang paling membutuhkan memperoleh akses asupan bergizi, edukasi pola makan sehat, serta dukungan sosial yang berkelanjutan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya menekankan pelaksanaan MBG perlu memprioritaskan kelompok rentan yang dikenal sebagai 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Menurutnya, ketika dapur layanan MBG mulai beroperasi di suatu wilayah, kelompok tersebut menjadi sasaran utama karena berada pada fase kehidupan yang menentukan.
Sony mengaitkan prioritas itu dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan, yang disebut sebagai masa krusial bagi kualitas tumbuh kembang anak, kondisi kesehatan, dan kapasitas generasi mendatang. Karena itu, perhatian pada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dipandang sebagai bagian penting dari upaya memperkuat kesehatan publik sejak tahap paling awal.
Ia juga menyampaikan konsep MBG di Indonesia memiliki nilai lebih dibanding sejumlah program makan gratis di negara lain. Jika program serupa di berbagai negara umumnya berfokus pada peserta didik di sekolah, Indonesia mengembangkan pendekatan yang lebih luas melalui konsep school meal plus. Dalam kerangka ini, sekolah tetap menjadi bagian penting, namun pemerintah juga menempatkan kelompok rentan di masyarakat sebagai prioritas, sehingga perlindungan gizi diperkuat bahkan sebelum anak memasuki pendidikan formal.
Penguatan MBG turut ditopang kolaborasi lintas sektor. Dalam pelaksanaannya, Kemendukbangga/BKKBN menggandeng Tim Penggerak PKK dan Tim Pendamping Keluarga untuk memperluas jangkauan distribusi dan edukasi gizi. Kader PKK, posyandu, dan pendamping keluarga disebut berada di garis depan karena dekat dengan masyarakat, memahami kondisi keluarga sasaran, serta menjadi penghubung antara kebijakan nasional dan praktik sehari-hari di tingkat desa maupun kelurahan.
Anggota Komisi IX DPR RI Putih Sari menilai pemenuhan gizi merupakan aspek penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Ia menyatakan gizi yang baik sejak dini menjadi fondasi pembentukan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Putih juga menilai kehadiran BGN melalui berbagai programnya merupakan langkah strategis untuk membantu masyarakat memperoleh akses makanan sehat dan bergizi, serta memandang pemenuhan gizi bagi anak-anak dan ibu hamil sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Selain aspek kesehatan, MBG juga dipandang berpotensi menjadi instrumen penguatan keadilan sosial di bidang kesehatan. Perbedaan kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi disebut menjadi salah satu penyebab kesenjangan kualitas kesehatan. Keluarga berpendapatan terbatas kerap memilih makanan berdasarkan harga termurah, bukan kandungan gizi terbaik, sehingga anak-anak dari kelompok rentan berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan nutrisi. Program MBG diarahkan untuk membantu mengurangi ketimpangan tersebut dengan menghadirkan dukungan negara di tengah masyarakat.
Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana menambahkan bahwa makan bergizi tidak harus mahal karena banyak bahan pangan bergizi yang tetap terjangkau, seperti telur, sayuran, dan buah. Ia menekankan pentingnya edukasi gizi seimbang agar masyarakat memahami kualitas makanan tidak selalu ditentukan oleh harga tinggi, melainkan kelengkapan kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral.
Secara keseluruhan, pendekatan MBG menempatkan partisipasi masyarakat sebagai faktor penting. Dengan keterlibatan warga, program dinilai lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan lokal, lebih cepat dievaluasi saat muncul kendala, dan berpeluang lebih besar diterima sebagai gerakan bersama untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Melalui kombinasi intervensi gizi, edukasi keluarga, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat, MBG diproyeksikan menjadi bagian dari gerakan yang menegaskan pesan bahwa kesehatan publik dimulai dari pola makan keluarga. Dari asupan ibu hamil, pemenuhan gizi balita, hingga pemahaman orang tua tentang gizi seimbang, seluruhnya dipandang berkontribusi terhadap kualitas generasi mendatang.

