Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mendapat dukungan karena dinilai mampu memperkuat kesehatan masyarakat melalui pemenuhan gizi seimbang. Program ini dipandang tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga menjadi langkah strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia sejak usia dini.
Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menilai MBG memberi dampak positif yang luas, baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan masyarakat. “Program MBG memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui pemenuhan gizi yang baik,” kata Lucy.
Menurut Lucy, upaya memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi cukup dan seimbang sejak dini merupakan fondasi penting bagi pembangunan bangsa ke depan. Ia menjelaskan, MBG menyasar peserta didik di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas.
Program tersebut juga mencakup santri di lingkungan pesantren serta anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian gizi secara khusus. Dengan cakupan yang luas, program ini diharapkan dapat memastikan setiap anak Indonesia memiliki akses terhadap makanan bergizi.
Selain peserta didik, MBG turut menyasar kelompok yang membutuhkan perhatian gizi tambahan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Kelompok ini dinilai penting dalam upaya pencegahan masalah gizi sejak masa awal kehidupan. “Program ini merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa. Dengan pemenuhan gizi yang baik, kita dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Lucy.
Anggota Komisi IX DPR RI lainnya, Ranny Fahd Arafiq, menegaskan MBG tidak sekadar memberikan bantuan makanan. Menurutnya, program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menyiapkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan produktif. “Program ini menjadi bentuk perhatian pemerintah agar anak-anak sebagai penerima manfaat mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang,” kata Ranny.
Ranny menambahkan, pemenuhan gizi yang baik pada masa pertumbuhan dapat berdampak besar pada perkembangan fisik serta kemampuan belajar anak. Dengan kondisi kesehatan yang lebih baik, anak-anak diharapkan mampu menyerap pelajaran secara optimal di sekolah.
Di sisi lain, Ranny juga menyoroti dampak ekonomi dari pelaksanaan MBG. Ia menyebut setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melibatkan tenaga kerja lokal dan menggunakan bahan pangan dari pemasok di wilayah sekitar. “Program ini juga dirancang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Setiap dapur SPPG akan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar sehingga turut menggerakkan perekonomian wilayah,” lanjutnya.
Dengan berbagai manfaat tersebut, MBG diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing. Pemerintah juga terus mendorong penguatan pelaksanaan program agar manfaatnya dapat dirasakan lebih merata di berbagai daerah.

