BERITA TERKINI
PKL Ngawi Street Food Keluhkan Penjualan Sepi dan Harga Bahan Pangan Naik

PKL Ngawi Street Food Keluhkan Penjualan Sepi dan Harga Bahan Pangan Naik

Para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan street food Kota Ngawi, Jawa Timur, mengeluhkan penurunan jumlah pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut juga dibarengi kenaikan harga sejumlah bahan pangan di pasaran, yang membuat pedagang kian tertekan.

Salah satu pedagang, Iik Sri Sunarti (56), mengatakan omzet usahanya turun drastis dibanding sebelumnya. Ia menuturkan keluhan serupa juga dirasakan banyak pedagang lain di kawasan tersebut.

“Jualan sepi banget. Bahkan kian hari tambah parah. Dan banyak pedagang mengeluh sepi,” ujar Iik, Kamis (11/6/2026).

Iik mengungkapkan, sebelumnya ia bisa meraih omzet sekitar Rp 500.000 per hari dari berjualan makanan dan minuman. Namun belakangan, untuk memperoleh omzet Rp 100.000 saja disebutnya sudah sulit.

“Kemarin saya hanya mendapatkan Rp 70.000. Padahal saya buka mulai pukul 09.00 dan tutup pukul 24.00 setiap hari,” kata dia.

Iik menilai, kondisi penjualan mulai berubah setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Menurutnya, sebelum program tersebut, banyak pelajar yang datang membeli makanan di kawasan street food yang berada di dekat Alun-Alun Ngawi.

“Dulu bisa dapat Rp 500.000. Tetapi setelah MBG pendapatan kami turun drastis. Anak-anak sekolah tidak mau jajan lagi. Dahulu biasa anak-anak SMK kalau pulang pesan mi ayam atau ayam geprek,” ungkapnya.

Selain sepinya pembeli, pedagang juga menghadapi kenaikan harga bahan baku. Iik menyebut harga ayam dan telur yang sebelumnya masih bisa dibeli di bawah Rp 20.000 kini mencapai sekitar Rp 30.000.

“Dulu ayam dan telur bisa di bawah Rp 20.000. Sekarang ayam paling murah di harga Rp 30.000,” ujarnya.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas lain. Cabai yang sebelumnya sekitar Rp 27.000 per kilogram kini disebut mencapai Rp 100.000 per kilogram. Sementara tomat naik dari sekitar Rp 5.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram.

Untuk menekan potensi kerugian, Iik mengaku memilih mengurangi porsi makanan yang dijual daripada menaikkan harga jual. “Kalau mau dinaikkan tidak bisa. Nanti pembeli enggak datang lagi,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lain, Suharni. Ia menyebut omzet penjualannya cenderung stagnan dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, ia tetap bertahan berjualan karena usaha tersebut menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Para pedagang menilai, lesunya penjualan dan tingginya harga bahan pangan menjadi tantangan utama yang mereka hadapi saat ini.