Di tengah maraknya tren kuliner modern dan makanan viral, pentol dan ceker tetap mempertahankan tempatnya sebagai jajanan kaki lima favorit masyarakat. Tekstur kenyal, cita rasa gurih, serta kemudahan dipadukan dengan beragam bumbu membuat dua menu ini terus diminati, bahkan ketika berbagai jajanan kekinian silih berganti muncul.
Salah satu pelaku usaha yang menyoroti daya tahan pentol dan ceker adalah Pentol Ceker Begal. Usaha ini mempertahankan eksistensi dengan mengandalkan konsistensi rasa, sekaligus melakukan inovasi melalui kolaborasi dengan berbagai merek lokal. Langkah tersebut dinilai memperluas jangkauan pasar dan menghadirkan variasi menu yang lebih relevan bagi konsumen saat ini.
Pemilik Pentol Ceker Begal, Hendra Rizky, menilai kolaborasi lintas pelaku usaha dapat menjadi ruang eksperimen yang mempertemukan karakter berbeda dari masing-masing merek. Menurutnya, ketika pentol yang sederhana dipadukan dengan ide dan identitas brand lain, peluang menghadirkan varian baru menjadi lebih terbuka. “Masing-masing punya keunikan dan audiens sendiri. Saat pentol yang sederhana bertemu dengan inovasi dari brand lain, di situlah muncul varian menu baru yang relevan dengan lidah konsumen saat ini,” ujar Hendra.
Dari sisi alasan mengapa pentol terus disukai, faktor tekstur menjadi salah satu kunci. Perpaduan daging dan tepung yang pas menciptakan sensasi kenyal saat dikunyah. Selain itu, pentol juga fleksibel untuk dipadukan dengan banyak pilihan bumbu, mulai dari saus kacang klasik, sambal korek pedas, hingga racikan lain yang mengikuti selera pasar.
Ceker pun dinilai melengkapi daya tarik pentol. Ceker ayam yang dimasak hingga empuk dengan bumbu meresap memberikan pengalaman rasa tersendiri. Di era digital, tampilan ceker dengan balutan bumbu merah pedas juga kerap menjadi magnet bagi pencinta makanan pedas.
Melalui strategi kolaborasi dan promosi silang, pentol dan ceker disebut tidak lagi terbatas dijumpai di pinggir jalan. Keduanya mulai merambah pusat keramaian dan acara komunitas, sekaligus menawarkan pengalaman baru tanpa meninggalkan ciri khas jajanan aslinya. Dalam persaingan yang ketat, menu hasil kerja sama antar pelaku usaha lokal juga dinilai memiliki daya tarik karena menawarkan sesuatu yang berbeda dan sering kali bersifat terbatas.
Hendra menekankan bahwa kolaborasi bukan semata tentang meluncurkan satu produk, melainkan upaya mendorong kuliner lokal berkembang secara kolektif. “Kami melihat ini bukan hanya soal satu produk, tapi bagaimana ke depan kuliner lokal seperti pentol bisa terus berkembang dan bersaing secara kolektif,” katanya.
Dengan inovasi rasa dan dukungan antar pelaku UMKM, pentol dan ceker dipandang berpeluang tetap menjadi salah satu andalan street food di Indonesia.

