Ambon — Pengamat Ekonomi Kreatif Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, menilai masyarakat modern perlu menyeimbangkan kebiasaan “makan dengan lidah” dan “makan dengan otak” agar kesehatan tetap terjaga tanpa kehilangan kenikmatan kuliner.
Menurut Waluyo, banyak orang masih memilih makanan terutama berdasarkan rasa, aroma, dan kesenangan sesaat, ketimbang memperhatikan kandungan gizi serta dampaknya bagi kesehatan dalam jangka panjang. “Banyak orang makan bukan karena lapar, tetapi karena ingin. Minum bukan karena haus, tetapi karena rasa,” ujarnya.
Ia menyoroti perkembangan makanan ultra-proses yang umumnya tinggi gula, garam, dan lemak, yang dinilai membuat masyarakat semakin mudah tergoda untuk mengonsumsi makanan secara berlebihan.
Meski demikian, Waluyo menegaskan bahwa rasa bukan sesuatu yang harus dihindari. Baginya, kuliner merupakan bagian penting dari budaya dan kebahagiaan hidup manusia. “Masalahnya bukan pada rasa, tetapi ketika rasa menjadi satu-satunya pertimbangan,” katanya.
Waluyo menjelaskan, konsep “makan dengan otak” mendorong masyarakat lebih sadar terhadap jumlah kalori, kadar gula, protein, serat, hingga kualitas bahan pangan yang dikonsumsi setiap hari.
Ia juga menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun budaya makan sehat karena kaya makanan tradisional berbahan alami, seperti pecel, gado-gado, papeda, ikan bakar, sayur asem, dan jamu tradisional. Namun, menurutnya, tantangan utama bukan pada ketersediaan makanan sehat, melainkan bagaimana membuat pilihan tersebut tetap menarik bagi selera masyarakat modern.

