Aroma bawang putih, cabai, dan daging panggang yang mengepul dari pinggir jalan selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Bangkok, Thailand. Namun, pengetatan aturan terhadap pedagang kaki lima kini mengancam mata pencaharian mereka sekaligus budaya street food yang telah lama mendefinisikan ibu kota tersebut.
Situasi ini muncul tak lama setelah Bangkok dinobatkan sebagai destinasi wisata kuliner terbaik kedua di Asia setelah Hong Kong dalam ajang Tripadvisor 2026 Travelers' Choice Awards. Di sisi lain, Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) dalam beberapa tahun terakhir gencar melakukan pembersihan trotoar dengan alasan meningkatkan ketertiban kota dan merelokasi pedagang dari distrik komersial padat ke kios-kios pasar yang telah ditentukan.
Data BMA menunjukkan jumlah pedagang kaki lima turun tajam. Sejak 2022, jumlah pedagang diperkirakan merosot lebih dari 60 persen. Sekitar 10.000 pedagang disebut telah menghilang dari jalanan Bangkok. Sebagian berpindah ke pusat jajanan yang dikenal sebagai hawker center, namun banyak pula yang terpaksa menghentikan usaha karena aturan yang ketat atau bisnis yang tak lagi menguntungkan.
Bagi pedagang, relokasi bukan sekadar perpindahan lokasi berjualan, melainkan menyangkut kelangsungan hidup. Looknam Sinwirakit (45), penjual ketan goreng di Chinatown, mengaku khawatir karena status berjualannya dianggap ilegal. Ia pernah didenda 1.000 baht (sekitar Rp440 ribu) karena menghalangi jalan. “Tidak adil jika hanya mengusir kami, tapi jika mereka menyuruh pergi, kami harus patuh,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Wong Jaidee (56), penjual durian di pinggir jalan Bangkok. Ia menilai tingginya biaya hidup di kota membuat rencana cadangan sulit disiapkan. “Bangkok adalah kota dengan biaya hidup tinggi. Saya tidak punya rencana cadangan jika harus pindah,” katanya.
BMA mendorong pedagang untuk masuk ke salah satu dari lima hawker center yang baru dibuka, termasuk pusat terbaru di dekat Taman Lumphini pada April 2026. Di lokasi tersebut, pedagang membayar sewa 60 baht (sekitar Rp26 ribu) per hari.
Sejumlah pedagang menilai fasilitas hawker center membawa perubahan positif. Panissara Piyasomroj (59), penjual mi sejak 2004, mengatakan kondisi berjualan di tempat baru terasa lebih baik. “Bisnis saya seperti naik kelas, terlihat lebih bersih, dan nyaman karena ada akses air serta listrik,” ujarnya di bawah atap yang melindungi dari cuaca panas.
Di kalangan wisatawan, suasana trotoar yang padat dan aroma makanan panggang justru dianggap sebagai daya tarik Bangkok. Oliver Peter, turis asal Jerman, menyayangkan jika kultur street food memudar. “Thailand punya salah satu kuliner terbaik dunia. Sangat menyedihkan jika mereka (pedagang jalanan) menghilang. Ini adalah bagian dari budaya,” katanya.
Sementara itu, pejabat BMA Kunanop Lertpraiwan menyatakan pihaknya berkomunikasi dengan jelas dan tidak melakukan pengusiran mendadak terhadap pedagang. Meski demikian, bagi pedagang lansia yang sudah puluhan tahun berjualan di lokasi yang sama, kepindahan tetap menjadi momok di tengah modernisasi Bangkok.

