BERITA TERKINI
Pendidikan Gizi Dimulai dari Rumah, Diperkuat di Sekolah: Membentuk Kebiasaan Makan Sehat Sejak Dini

Pendidikan Gizi Dimulai dari Rumah, Diperkuat di Sekolah: Membentuk Kebiasaan Makan Sehat Sejak Dini

Keluarga dan sekolah disebut sebagai dua lingkungan utama yang membentuk kebiasaan nutrisi sehat pada anak. Kebiasaan ini menjadi fondasi untuk mewujudkan prinsip “pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat”, terutama di tengah kekhawatiran atas beredarnya makanan berkualitas rendah dan berbagai insiden keamanan pangan.

Dalam keseharian, setiap hidangan dapat menjadi pelajaran. Selama delapan tahun terakhir, Nguyen Quynh Anh (lahir 1982, Kelurahan Thanh Khe) terbiasa menjemput putrinya dari sekolah sambil membawa minuman buatan sendiri untuk memulihkan energi setelah seharian belajar. Menu minuman itu disesuaikan dengan cuaca, mulai dari jus jeruk, limun, hingga susu kacang hangat saat musim dingin. Ketika teman-teman sekelas putrinya memilih teh susu atau minuman ringan di kios pinggir jalan, anaknya menikmati minuman buatan sang ibu dalam perjalanan pulang.

Quynh Anh menilai, dalam situasi makanan yang dinilai kurang terjamin kualitasnya, anak perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk memilih makanan dan minuman. Ia juga membagikan informasi kepada putrinya ketika melihat berita terkait keamanan pangan sebagai cara mengingatkan. Ia menekankan pentingnya memilih makanan yang bersih demi kesehatan, meski harus mengorbankan aspek rasa.

Pandangan serupa diterapkan keluarga Dang Hoai Tien (lahir 1990, Kelurahan An Khe) yang memprioritaskan masakan rumahan dan bahan segar musiman. Keluarga ini berupaya meminimalkan makanan cepat saji serta makanan ultra-olahan, sekaligus membatasi penggunaan bumbu industri agar cita rasa alami tetap terjaga dan selera makan anak terbentuk lebih sehat.

Wakil Kepala Departemen Gizi–Dietetik–Vaksinasi Rumah Sakit Kebidanan dan Anak Da Nang, Hoang Thi Ai Nhi, menegaskan makanan bersih berperan mendasar bagi kesehatan anak secara menyeluruh. Menurutnya, anak belajar melalui pengamatan dan meniru, sehingga orang tua perlu menjaga kebiasaan makan sehat, serta meminimalkan penyimpanan makanan tidak sehat di rumah, terutama di tempat yang mudah terlihat anak. Ia menilai, pembiasaan sejak dini dan konsisten akan membentuk “refleks” yang baik ketika anak memilih makanan di masa depan.

Ai Nhi juga menyarankan orang tua menyiapkan camilan yang aman dengan variasi baru, membaca informasi gizi pada produk kemasan, dan memprioritaskan makanan segar dengan asal-usul yang jelas. Ia mengingatkan agar penggunaan makanan olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh diminimalkan, serta kebiasaan sering ngemil—terutama menjelang makan utama—perlu dihindari.

Meski keluarga menjadi tempat pembentukan kebiasaan makan awal, sekolah dipandang berperan memperkuat pengetahuan dan memberi bimbingan yang tepat, terutama pada usia prasekolah. Sejumlah sekolah mengintegrasikan pendidikan gizi melalui kegiatan tematik dan pengalaman langsung.

Baru-baru ini, Taman Kanak-kanak Truc Dao (Komune Tam Xuan) menyelenggarakan “Festival Kuliner Pedesaan Vietnam” yang dipadukan dengan tema “Pendidikan Gizi dan Perkembangan Motorik untuk Anak Prasekolah”. Puncak kegiatan berupa stan makanan yang menampilkan hidangan khas dari tiga wilayah Vietnam—Utara, Tengah, dan Selatan—yang disiapkan oleh siswa, orang tua, dan guru. Dalam kegiatan tersebut tidak disajikan makanan siap saji maupun makanan kalengan. Bahan yang digunakan merupakan bahan segar pilihan, sementara anak-anak menyiapkan hidangan di bawah bimbingan guru dan orang tua.

Di Taman Kanak-kanak Ong Vang (Komune Nam Phuoc), metode pembelajaran berbasis proyek yang berfokus pada anak digunakan untuk membangun berbagai proyek bertema makanan, seperti mi Quang, makanan perayaan Tet, lumpia, cita rasa rumahan, hingga permen biji teratai. Melalui rangkaian proyek, anak-anak diajak mengamati, menyentuh, mencicipi, belajar, dan menarik kesimpulan. Pendekatan ini ditujukan agar anak tidak hanya memahami makanan yang akrab, tetapi juga membentuk kesadaran, kebiasaan, dan keterampilan memilih makanan dan minuman dalam kehidupan sehari-hari.

Perwakilan Departemen Pendidikan Prasekolah di Departemen Pendidikan dan Pelatihan menekankan bahwa pada usia prasekolah, perawatan, pengasuhan, dan pendidikan berjalan beriringan. Karena itu, penyediaan makanan sekolah yang bergizi dinilai penting. Selain memastikan menu seimbang sesuai usia, guru juga mengintegrasikan pendidikan gizi dan nilai gizi makanan dalam kegiatan kelas untuk memperkuat pengetahuan dan membimbing anak membuat pilihan nutrisi yang tepat.

Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, semakin banyak sekolah mengadakan kegiatan ekstrakurikuler terkait makanan dan nutrisi, seperti diskusi tematik, festival makanan, serta lomba memasak. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan memilih bahan dan menyiapkan hidangan yang lebih sehat.

Di tengah realitas beredarnya makanan terkontaminasi dan palsu, termasuk stimulan yang disamarkan sebagai permen dan manisan, artikel ini menekankan perlunya kerja sama erat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk memberikan pendidikan gizi yang dini, berkelanjutan, dan praktis. Ketika anak memahami cara “makan dengan benar, makan cukup, dan makan sehat”, mereka dinilai ikut berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan.