BERITA TERKINI
Pencegahan Stunting Ditekankan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, Bengkulu Masih di Atas Rata-rata Nasional

Pencegahan Stunting Ditekankan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, Bengkulu Masih di Atas Rata-rata Nasional

Bengkulu masih menghadapi persoalan stunting yang dinilai mengancam kualitas generasi masa depan. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak janin hingga usia dua tahun.

Ketua IPeKB Daerah Bengkulu, Helmi Suanda, mengatakan penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi kronis. Menurutnya, rendahnya asupan gizi pada ibu hamil dan anak pada masa pertumbuhan menjadi faktor utama, namun turut dipengaruhi keterbatasan akses air bersih dan sanitasi, pola asuh yang kurang tepat, serta faktor ekonomi.

Ia menambahkan, lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko infeksi berulang sehingga menghambat penyerapan gizi pada anak. Di sisi lain, kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang dan pentingnya pemberian ASI eksklusif juga dinilai memperbesar risiko terjadinya stunting.

Dampak stunting, kata Helmi, tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa, antara lain berupa postur tubuh pendek permanen dan berat badan yang tidak ideal. Stunting juga disebut berpengaruh pada kemampuan kognitif, seperti rendahnya daya belajar dan memori.

Meski demikian, Helmi menegaskan stunting dapat dicegah bila upaya dilakukan sejak dini. Langkah pencegahan antara lain pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi.

“Rutin mengonsumsi tablet tambah darah, pemberian ASI eksklusif, mengoptimalkan 1.000 HPK, menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menghindari paparan asap rokok merupakan langkah prioritas dalam mencegah stunting,” ujar Helmi, Kamis, 23 April 2026.

Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Provinsi Bengkulu tercatat 18,8 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 14 persen, sehingga upaya pencegahan dinilai perlu terus diperkuat melalui edukasi dan intervensi berkelanjutan.

Helmi juga menyoroti peran penyuluh KB sebagai garda terdepan program Bangga Kencana dalam pendampingan keluarga. Menurutnya, melalui intervensi nutrisi dan pola asuh yang tepat selama periode 1.000 HPK, risiko stunting dapat diminimalisir secara signifikan.

Ia optimistis, edukasi yang masif dan berkesinambungan kepada masyarakat dapat menekan angka stunting, sehingga mendukung lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan siap menopang pembangunan berkelanjutan.