Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memperkenalkan kembali asal-usul penamaan sejumlah kawasan di kota itu melalui rubrik digital bertajuk Menolak Lupa. Program ini ditujukan untuk menjangkau generasi muda, terutama Gen Z, yang dinilai mulai berjarak dengan sejarah lokal di lingkungannya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang, M. Nur Widianto, mengatakan penguatan rubrik digital tersebut menjadi bagian dari strategi komunikasi publik sekaligus upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat. Ia menyebut banyak penamaan wilayah di Malang yang memiliki cerita panjang, namun perlahan memudar dari ingatan warga.
“Rubrik ini kami siapkan sebagai medium untuk merawat memori bersama. Banyak penamaan wilayah yang sebenarnya punya cerita panjang, tetapi kini mulai dilupakan,” kata Nur Widianto yang akrab disapa Wiwid.
Ia mencontohkan sejumlah kawasan yang lebih dikenal lewat sebutan populer dibandingkan nama administratif. Kayutangan, misalnya, secara resmi tercatat sebagai Jalan Basuki Rahmat, tetapi sebutan Kayutangan tetap digunakan dalam keseharian warga. Contoh lain adalah Betek yang merujuk pada Jalan Mayjend Panjaitan, serta Tongan yang dikenal sebagai sebutan untuk wilayah Jalan Ade Irma Suryani.
Menurut Wiwid, generasi muda kini cenderung mengenal wilayah dari papan nama jalan atau aplikasi peta digital. Padahal, sebutan lokal lahir dari dinamika sosial masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. “Padahal sebutan-sebutan lokal itu lahir dari dinamika masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sayangnya, pelan-pelan mulai tergerus,” ujarnya.
Melalui rubrik Menolak Lupa, Diskominfo berharap ikatan emosional warga dengan Kota Malang dapat kembali menguat, termasuk bagi warga yang kini menetap di luar daerah agar tetap memiliki kedekatan batin dengan kampung halamannya.
Wiwid menambahkan, rubrik tersebut tidak hanya membahas nama jalan, tetapi juga penamaan wilayah berbasis pedukuhan dan kearifan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat. “Yang kami angkat bukan sekadar nama resmi, tapi sebutan-sebutan lokal yang menjadi bagian dari identitas warga. Itu yang ingin kami hadirkan kembali sebagai ruang belajar budaya,” katanya.

