Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Budi Gunawan mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan respons negara terhadap tantangan malnutrisi di Indonesia. Menurutnya, persoalan malnutrisi tidak hanya terkait kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi serta kekurangan zat gizi mikro.
Budi memaparkan data tahun 2022 yang menunjukkan 32 persen anak Indonesia mengalami anemia, 41 persen tidak sarapan, dan 58 persen memiliki pola makan tidak sehat, terutama pada kelompok rentan di fase emas pertumbuhan. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (5/8/2025).
Ia menjelaskan, hingga akhir Juli 2025, program MBG telah menjangkau 7.374.135 penerima manfaat melalui 2.375 dapur komunitas gizi atau Sentra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif. Sasaran program meliputi anak sekolah, balita, ibu hamil dan menyusui, serta santri di pesantren dan sekolah keagamaan.
Dalam pelaksanaannya, Presiden Prabowo menargetkan MBG dapat menjangkau 20 juta penerima manfaat sebelum 17 Agustus 2025 dan mencapai 82,9 juta penerima pada akhir tahun.
Budi menyebut program ini tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga telah membuka lebih dari 100 ribu lapangan kerja baru. Selain itu, MBG menggandeng UMKM, petani, nelayan, dan koperasi lokal dalam ekosistem pelaksanaannya.
Menurutnya, ketahanan gizi merupakan fondasi ketahanan nasional. Ia menilai pemenuhan gizi anak akan mendukung pertumbuhan yang sehat dan cerdas, sehingga berpengaruh pada masa depan bangsa.
Ia menambahkan, dapur SPPG rata-rata mampu melayani sekitar 3.000 orang per hari. Menu MBG disusun berdasarkan prinsip “Isi Piringku” dan ditargetkan memenuhi 25–35 persen kebutuhan gizi harian.
Budi juga mengatakan program MBG diawasi oleh Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, serta sistem digital nasional untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Selain dampak pada gizi dan kesehatan, ia menilai MBG turut memperkuat ketahanan ekonomi melalui pengurangan beban pengeluaran rumah tangga, penciptaan lapangan kerja, serta stabilisasi harga pangan lewat pembelian langsung dari produsen rakyat.

