BERITA TERKINI
Pembangunan Kawasan Street Food Jember Baru 25–30 Persen, Usung Nuansa Nusantara hingga Eropa Klasik

Pembangunan Kawasan Street Food Jember Baru 25–30 Persen, Usung Nuansa Nusantara hingga Eropa Klasik

Pembangunan kawasan street food di pusat Kota Jember disebut masih berada pada tahap awal. Bupati Jember Fawait menyatakan progresnya baru sekitar 25–30 persen saat meninjau langsung koridor Jalan Kartini hingga Jalan Gatot Subroto, usai menghadiri pesta rakyat Karnaval SCTV pada akhir pekan lalu.

Dalam peninjauan tersebut, Fawait didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Achmad Imam Fauzi serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Kawasan yang dipantau itu diproyeksikan menjadi pusat kuliner malam sekaligus bagian dari penataan pedagang kaki lima (PKL) di Jember.

Fawait menegaskan kondisi di lapangan belum mencerminkan konsep akhir yang disiapkan pemerintah daerah. Ia menyebut sejumlah elemen masih belum terpasang, termasuk lampu dan gerobak yang dirancang mengusung nuansa Nusantara dan dunia. “Kalau dipersentase mungkin baru 25 sampai 30 persen. Jadi kalau dikatakan selesai, belum, masih jauh. Lampu-lampunya belum semua, gerobaknya dengan nuansa Nusantara dan dunia juga belum,” kata Fawait.

Menurutnya, proyek ini tidak hanya ditujukan sebagai sentra kuliner malam, tetapi juga sebagai upaya menghidupkan kembali pusat kota yang dinilai belum tertata optimal. Pemerintah daerah juga menyiapkan konsep visual dengan tema tertentu di setiap koridor jalan.

Salah satu konsep yang disiapkan adalah nuansa Eropa klasik di sekitar kawasan gereja di Jalan Kartini. “Dari pertigaan sampai ke sana nuansanya Eropa klasik menyesuaikan gereja. Jadi nanti gerobaknya juga bernuansa Eropa klasik,” ujarnya.

Fawait memastikan area depan gereja tidak akan ditempati PKL. Lokasi tersebut direncanakan menjadi ruang terbuka dengan ornamen dekoratif serta area duduk bagi pengunjung. “Tempat duduknya nanti di trotoar, bukan di jalannya. Jalannya tetap untuk kendaraan masuk,” kata dia.

Selain pembangunan fisik, pemerintah daerah juga membuka ruang partisipasi masyarakat untuk menentukan nama kawasan street food tersebut. Fawait mengajak warga mengusulkan nama yang dinilai sesuai dengan konsep kawasan.

Secara keseluruhan, konsep street food ini diarahkan tidak hanya sebagai pusat kuliner, tetapi juga strategi penataan PKL dan penguatan ekonomi rakyat berbasis UMKM. Selama ini, PKL tersebar di sejumlah titik pusat kota, termasuk sekitar alun-alun. Pemerintah daerah berharap kawasan baru ini dapat menjadi ruang aktivitas ekonomi informal yang lebih tertata.

Fawait menegaskan proyek tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah kepada pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.