Sejumlah perwakilan paguyuban Sahabat Bakso Indonesia menemui Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Dalam pertemuan itu, para pedagang menyampaikan keluhan terkait kondisi ekonomi, terutama lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang dinilai berdampak pada naiknya harga bahan baku, khususnya daging.
Ketua Umum Sahabat Bakso Indonesia, Bambang Hariyanto, mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar membebani pelaku UMKM kuliner tradisional. Ia menyebut komoditas utama seperti daging sapi dan gandum untuk bahan baku mi masih bergantung pada impor.
“Hari ini dolar sangat menaik, otomatis akan mengganggu, meningkatkan bahan baku kita, pembelanjaan kita. Khususnya kita kan hari ini daging sapi masih impor,” kata Bambang saat ditemui di kediaman Jokowi di Sumber, Banjarsari, Senin (1/6/2026). Ia menambahkan Jokowi turut prihatin, termasuk terhadap dampak perang dan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Bambang memaparkan kapasitas produksi daging sapi dalam negeri saat ini sekitar 400.000 ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional mencapai 700.000 ton. Defisit 300.000 ton itu, menurutnya, dipenuhi melalui impor dari sejumlah negara, di antaranya India dan Australia.
Ia juga menyebut gejolak nilai tukar ikut mendorong kenaikan harga daging sapi. Harga daging sapi segar yang sebelumnya stabil kini disebut telah naik hingga Rp145.000 per kilogram. Sementara daging impor, menurut Bambang, berada di kisaran Rp110.000 sampai Rp120.000 per kilogram.
Situasi tersebut, lanjut Bambang, membuat pedagang bakso harus mencari cara agar tetap bertahan. Untuk wilayah perkotaan, sebagian pedagang memilih menaikkan harga jual sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per porsi. Namun bagi pedagang di pedesaan atau perkampungan, kenaikan harga dinilai berisiko karena dikhawatirkan pelanggan beralih.
“Siasat yang kita dorong buat teman-teman, kita mengukurkan size-nya kita kecilkan, kalau enggak bijinya (jumlah bakso) kita kurangi. Jadi fifty-fifty, ada yang menaikkan harga, ada yang mengurangi ukuran,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, Jokowi menyatakan keprihatinan atas dampak konflik geopolitik yang disebut turut memengaruhi ketidakstabilan ekonomi, termasuk rantai pasok BBM, gandum, dan daging. Dalam pertemuan itu, Jokowi juga meminta para pedagang bakso dan mi ayam tradisional tetap semangat di tengah persaingan produk makanan asing.
Bambang menyebut Jokowi menyinggung banyaknya produk makanan dan minuman dari Cina yang beredar, yang menurut data BPS jumlahnya mencapai 4.000 produk. Ia mengatakan Jokowi menyampaikan akan memperjuangkan regulasi yang dinilai dapat melindungi UMKM.
“Beliau akan memperjuangkan untuk memberikan orang-orang yang bisa memproteksi dengan regulasi. Jangan sampai nanti pembatasan-pembatasan, misalnya kalau untuk makanan F&B ini kan yang dari Cina ini nanti kita batasi untuk melindungi UMKM-UMKM asli Indonesia,” kata Bambang.

