BERITA TERKINI
Pasien Bariatrik Disarankan Didampingi Tim Multidisiplin, dari Dokter hingga Psikolog

Pasien Bariatrik Disarankan Didampingi Tim Multidisiplin, dari Dokter hingga Psikolog

JAKARTA — Prosedur bariatrik kerap dipertimbangkan sebagai solusi medis untuk mengatasi obesitas. Namun, penanganannya tidak berdiri sendiri dan umumnya melibatkan tim multidisiplin yang mencakup dokter spesialis, ahli gizi, hingga psikolog.

Pendekatan menyeluruh dinilai penting karena obesitas tidak hanya berkaitan dengan angka berat badan, tetapi juga berhubungan dengan faktor metabolik, perilaku makan, dan kondisi psikologis pasien. Karena itu, pengelolaan obesitas disebut memerlukan program yang terstruktur, tidak sebatas pengaturan pola makan secara sederhana.

Dalam kondisi tertentu, operasi bariatrik dapat dipertimbangkan ketika risiko kesehatan akibat obesitas dinilai lebih besar dibandingkan risiko tindakan operasinya. Dokter Spesialis Bedah Digestif yang menangani bedah bariatrik di LIGHThouse Advanced Klinik, dr Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS, menjelaskan bahwa bariatrik merupakan bagian dari terapi penyakit metabolik.

“Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respon hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya,” ujarnya.

Ia juga memaparkan kriteria minimum indeks massa tubuh (BMI) yang dapat dipertimbangkan untuk operasi bariatrik, sesuai latar belakang kesehatan pasien. Kriteria tersebut antara lain pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30; serta pasien tanpa komorbid dengan BMI di atas 35.

Meski demikian, operasi bariatrik disebut bukan solusi instan. Pasien tetap perlu beradaptasi dengan pola makan baru karena kapasitas lambung berkurang. Pada tahap ini, pendampingan nutrisi menjadi penting untuk memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi, termasuk kemungkinan kebutuhan suplementasi.

Ahli gizi sekaligus program manager LIGHT Group, Veronica S.Gz., mengatakan perubahan pola makan sebelum dan setelah tindakan berlangsung signifikan, terutama pada masa setelah operasi yang dinilainya sangat krusial. “Fokus kami tidak hanya memastikan kecukupan cairan dan protein, tetapi juga mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan,” katanya.

Veronica menambahkan, edukasi terkait penyesuaian pola makan diperlukan karena tantangan dan keinginan makan tetap ada meski ukuran lambung lebih kecil. Menurutnya, pendampingan berkelanjutan dibutuhkan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang.

Selain aspek fisik, perubahan pascaoperasi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien. Perubahan pola makan yang drastis dan permanen disebut bisa berdampak pada emosi dan kebiasaan sehari-hari. Data dari PubMed di bawah naungan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat menyebut sekitar 15% pasien bariatrik mengalami depresi, yang dikaitkan dengan perubahan hormonal dan metabolik.

Karena itu, skrining sebelum tindakan dan pendampingan psikologis setelahnya disarankan. Psikolog Klinis dari klinik tersebut, Tara de Thouars, menilai aspek emosional perlu ditangani agar pasien dapat beradaptasi. “Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustasi akan dihadapi pasien. Karena itu, pendampingan psikolog dibutuhkan agar pasien dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan dan dapat menyesuaikan pola hidup dan mindset yang baru dengan lebih efektif,” ujarnya.

Pendekatan pendampingan serupa juga diterapkan pada pasien yang menjalani prosedur lain seperti liposuction Ultrasound Fat Removal (ULFRA), yang berfungsi mengangkat lemak subkutan yang telah menumpuk dalam waktu lama. Namun, tanpa perubahan gaya hidup berkelanjutan, terdapat risiko lemak kembali menumpuk di area yang sama.

Melalui pendekatan yang lebih komprehensif, program pendampingan difokuskan pada edukasi dan perubahan perilaku untuk membantu pasien mempertahankan hasil tindakan, mencapai target penurunan berat badan, serta membangun kebiasaan hidup sehat jangka panjang.

CMO LIGHT Group, Anna Wibowo, menyatakan pendampingan diberikan sejak tahap sebelum hingga setelah tindakan, termasuk dukungan psikologis. “Kami memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan menyeluruh, dimulai dari pre-surgical nutrition hingga post-surgical nutrition, guna membantu proses adaptasi terhadap pola makan yang baru secara optimal. Pendekatan ini juga dilengkapi dengan pendampingan psikologis yang bertujuan untuk mengatasi kecemasan, sekaligus membangun pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat serta berkelanjutan,” ujarnya.

Secara umum, pendampingan yang berkelanjutan disebut menjadi kunci agar hasil yang dicapai tidak hanya optimal, tetapi juga dapat dipertahankan dalam jangka panjang.