Nama “Pasar Beling Song Meri” mendadak ramai diperbincangkan, dan jejaknya terlihat di pencarian warganet. Bukan semata karena pasar, melainkan karena cara ia mengubah transaksi menjadi pengalaman.
Di Pacitan, Minggu pagi, 25 Januari 2026, sebuah pasar dibuka pukul 07.00 WIB. Lokasinya di Sanggar Seni Song Meri, Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo.
Yang membuat orang berhenti menggulir layar adalah satu detail kecil namun kuat. Pengunjung tidak membayar dengan rupiah langsung, melainkan dengan koin dari kaca.
Di era dompet digital dan QR code, koin beling terdengar seperti anomali yang memikat. Ia memaksa orang bertanya, lalu datang untuk membuktikan sendiri.
-000-
Mengapa Pasar Beling Menjadi Tren
Ada tiga alasan utama isu ini menjadi tren. Pertama, unsur “unik” yang mudah diceritakan ulang, yaitu transaksi memakai koin dari limbah kaca.
Keunikan itu bekerja seperti judul yang berdiri sendiri. Sekali orang mendengar “koin kaca”, rasa ingin tahu bergerak lebih cepat daripada penjelasan.
Alasan kedua adalah nostalgia yang ditawarkan secara visual dan inderawi. Arsitektur menyerupai joglo dengan atap daun kelapa mengundang ingatan kolektif tentang desa.
Nostalgia bukan sekadar rindu masa lalu. Ia sering menjadi cara masyarakat memulihkan diri dari rutinitas modern yang terasa serba cepat dan serba digital.
Alasan ketiga adalah pertemuan antara kuliner tradisional, kerajinan, dan pentas seni. Paket lengkap ini membuat pasar bukan hanya tempat belanja, melainkan tujuan wisata budaya.
Di titik ini, pasar bekerja seperti panggung. Orang datang untuk merasakan suasana, mendengar bunyi, mencium aroma, dan membawa pulang cerita.
-000-
Kronik Pagi di Song Meri
Pagi itu, suasana tempo dulu disebut kembali menyapa warga Pacitan dan sekitarnya. Pasar Beling Song Meri resmi dibuka di lingkungan sanggar seni.
Di antara lapak pedagang, pengunjung berburu jajanan tradisional. Klepon, cenil, tiwul, hingga nasi pecel menjadi bagian dari daftar yang dicari.
Namun, sebelum memilih makanan, pengunjung harus melewati satu ritual kecil. Mereka menukarkan uang rupiah menjadi koin beling di loket yang disediakan.
Koin tersedia dalam pecahan Rp5.000 dan Rp10.000. Setelah itu, barulah transaksi di lapak pedagang dilakukan dengan koin kaca tersebut.
Di sisi lain, ada pameran kerajinan tangan karya warga desa. Di saat yang sama, bunyi gamelan beling dan musik “orok-orok” mengisi pagi.
Harmoni itu membuat pasar terasa lebih pelan, lebih hangat, dan lebih manusiawi. Seolah-olah transaksi bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjumpaan.
-000-
Koin Kaca sebagai Simbol: Dari Limbah Menjadi Nilai
Gagasan koin beling berangkat dari pemanfaatan sisa bahan pembuatan Gamelan Kaca. Ikon sanggar itu menjadi sumber cerita sekaligus sumber material.
Di sini, limbah tidak diposisikan sebagai akhir, melainkan awal. Ia diberi bentuk, diberi fungsi, lalu diberi makna melalui pengalaman pasar.
Dalam bahasa ekonomi kreatif, nilai tidak selalu lahir dari bahan mahal. Nilai sering lahir dari narasi, desain, keterbatasan, dan cara sebuah komunitas memakainya.
Namun, koin beling juga lebih dari strategi. Ia mengubah perilaku: orang berhenti sejenak, menukar uang, menghitung ulang, lalu membeli dengan lebih sadar.
Di tengah budaya belanja serba cepat, jeda itu penting. Jeda membuat transaksi terasa seperti keputusan, bukan refleks.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Pengalaman Mengalahkan Produk
Ada konsep yang sering dipakai untuk membaca fenomena semacam ini, yaitu “experience economy”. Gagasannya menekankan bahwa pengalaman dapat menjadi nilai utama di atas barang.
Dalam kerangka itu, pasar bukan hanya tempat pertukaran barang dan uang. Pasar adalah panggung yang mengorkestrasi suasana, simbol, dan interaksi sosial.
Riset tentang pariwisata budaya juga kerap menekankan peran “authenticity” atau rasa otentik. Orang mencari sesuatu yang terasa berakar, bukan sekadar dibuat-buat.
Pasar Beling menawarkan otentisitas melalui bentuk ruang, jenis makanan, dan bunyi musik. Koin beling menambah lapisan otentik yang tidak mudah ditiru.
Selain itu, ada dimensi ekonomi sirkular yang relevan. Prinsipnya sederhana: material dipakai ulang, limbah dikurangi, dan nilai ekonomi diciptakan dari sisa produksi.
Di Song Meri, limbah kaca dipindahkan dari kategori “buangan” ke kategori “alat transaksi”. Perubahan kategori ini adalah perubahan cara pandang.
-000-
Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya: Ambisi yang Membumi
Pemrakarsa Sanggar Song Meri, Amin Sastroprawiro, menekankan pasar sebagai wadah silaturahmi dan penggerak ekonomi warga Desa Sukoharjo.
Ia menyebut fokusnya menjalin persatuan dan persahabatan melalui pelestarian budaya. Pasar Beling dipandang sebagai bukti limbah bisa menjadi nilai tambah.
Pernyataan itu penting karena menggeser fokus dari sekadar ramai pengunjung. Yang dikejar bukan hanya kerumunan, melainkan keberlanjutan hubungan sosial.
Dalam banyak kasus, ekonomi lokal rapuh ketika hanya mengandalkan momen viral. Tetapi ekonomi lokal menguat ketika ada institusi sosial yang menjaga ritme kegiatan.
Pasar Beling, dalam narasi yang disampaikan, berusaha menjadi ritme itu. Ia mengikat budaya, warga, dan pengunjung dalam satu ekosistem yang saling menghidupi.
-000-
Mengapa Isu Ini Penting bagi Indonesia
Fenomena Pasar Beling menyentuh isu besar yang sedang dihadapi Indonesia: bagaimana pembangunan ekonomi bisa berjalan tanpa memutus akar budaya lokal.
Di banyak daerah, modernisasi sering datang bersama seragamnya selera. Akibatnya, kuliner tradisional, kerajinan, dan kesenian rentan tersingkir dari ruang publik.
Pasar Beling menunjukkan jalur lain. Ia mengundang orang datang justru karena yang ditawarkan berbeda, lokal, dan punya kisah.
Isu besar lain adalah pengelolaan limbah dan keberlanjutan. Ketika limbah dipahami sebagai sumber daya, masyarakat terdorong memikirkan desain, bukan sekadar membuang.
Indonesia juga sedang menegosiasikan identitasnya di era digital. Pasar ini menarik karena memadukan promosi modern dengan pengalaman yang sengaja dibuat analog.
Kontras itu mengajarkan sesuatu: teknologi bisa mengantar orang datang, tetapi makna sering lahir dari perjumpaan langsung yang tidak bisa diunduh.
-000-
Rujukan dari Luar Negeri: Ketika Pasar Menjadi Panggung Budaya
Di berbagai negara, ada contoh pasar yang dibangun sebagai pengalaman budaya, bukan semata tempat belanja. Misalnya, pasar tradisional yang ditata sebagai destinasi wisata.
Di Jepang, beberapa festival lokal menggunakan kupon atau token untuk transaksi di area acara. Tujuannya sering untuk mengatur aliran pembayaran dan menciptakan suasana khas.
Di sejumlah festival Eropa, sistem token juga dipakai agar transaksi lebih tertib dan cepat. Token menjadi bagian dari identitas acara, sekaligus memudahkan pengelolaan.
Persamaannya dengan Pasar Beling ada pada gagasan “mata uang acara” yang memisahkan ruang festival dari ruang ekonomi harian. Pengunjung diajak masuk ke dunia yang berbeda.
Bedanya, Song Meri menambahkan dimensi keberlanjutan karena tokennya dibuat dari limbah kaca. Di titik ini, token bukan hanya alat, melainkan pernyataan.
-000-
Risiko yang Perlu Diingat: Antara Viral dan Berkelanjutan
Setiap tren membawa tantangan. Ketika sebuah tempat viral, arus pengunjung bisa meningkat lebih cepat daripada kesiapan ruang, pelaku, dan tata kelola.
Namun, informasi yang tersedia hanya menegaskan tujuan silaturahmi dan penggerak ekonomi warga. Maka, pembacaan risiko ini sebaiknya menjadi catatan kehati-hatian.
Yang paling penting adalah menjaga agar esensi budaya tidak berubah menjadi sekadar dekorasi. Ketika budaya menjadi latar foto semata, nilai sosialnya menyusut.
Pasar Beling justru kuat karena ia memberi peran pada warga, seniman, dan karya lokal. Peran itu perlu dijaga agar tidak digantikan oleh kepentingan sesaat.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, pengunjung sebaiknya datang dengan sikap menghormati ruang budaya. Nikmati pertunjukan, beli secukupnya, dan perlakukan pasar sebagai rumah bersama.
Kedua, pemerintah daerah dan komunitas dapat memperkuat tata kelola tanpa menghilangkan kesederhanaannya. Misalnya, memastikan loket penukaran koin berjalan tertib.
Ketiga, pelaku ekonomi lokal dapat menjaga kualitas kuliner dan kerajinan. Tren mungkin lewat, tetapi reputasi rasa dan mutu akan menetap lebih lama.
Keempat, pendidikan publik tentang nilai limbah dapat dilakukan lewat cerita koin beling. Orang lebih mudah belajar ketika konsep besar hadir dalam benda kecil yang bisa dipegang.
Kelima, media dan warganet sebaiknya tidak hanya mengejar sisi uniknya. Ceritakan juga kerja komunitas, proses kebudayaan, dan alasan pasar ini dibangun.
-000-
Penutup: Koin Kaca, Ingatan, dan Masa Depan
Pasar Beling Song Meri menempatkan kebudayaan bukan sebagai barang museum. Ia hidup di tangan pedagang, di bunyi gamelan beling, dan di koin kaca yang berpindah.
Di Pacitan, sebuah pasar mengingatkan bahwa ekonomi bisa berangkat dari persahabatan. Bahwa limbah bisa menjadi lambang daya cipta, bukan sekadar sisa.
Dan bahwa Indonesia punya banyak cara untuk maju tanpa menanggalkan dirinya sendiri. Kita hanya perlu lebih sering memberi ruang pada yang lokal untuk bersinar.
Seperti kutipan yang kerap diulang dalam berbagai konteks perubahan sosial: “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”

