Mengapa Kuliner Jadul Blitar Mendadak Tren: Rasa yang Bertahan, Ingatan yang Pulang

Mengapa Kuliner Jadul Blitar Mendadak Tren: Rasa yang Bertahan, Ingatan yang Pulang

Nama Blitar kembali ramai di Google Trend, bukan karena polemik politik atau bencana, melainkan daftar kuliner jadul yang masih bertahan hingga 2026.

Isu ini tampak sederhana, tetapi memantik rasa ingin tahu publik tentang sesuatu yang kian langka: makanan yang tidak tergesa, tidak disulap agar viral, dan tidak berubah demi selera sesaat.

Di tengah banjir konten kuliner modern, kabar tentang soto hitam pekat, pecel lawas, nasi jagung, lodeh tungku, dan wajik berklobot terasa seperti pintu pulang.

Tren ini bukan sekadar soal lapar. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih dalam: apa yang kita pertahankan ketika dunia bergerak terlalu cepat.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren

Ada tiga alasan yang membuat kuliner jadul Blitar mendadak banyak dicari. Ketiganya berkelindan antara rasa, cerita, dan kecemasan kolektif tentang yang menghilang.

Pertama, ada kerinduan pada “rasa jujur” yang disebut dalam berita. Publik lelah pada sensasi instan, lalu mencari rasa yang konsisten dan tidak dibuat-buat.

Dalam daftar itu, konsistensi menjadi kata kunci. Resep turun-temurun disebut tidak banyak berubah, sehingga pengalaman makan terasa seperti menyentuh masa lalu yang nyata.

Kedua, kuliner jadul menawarkan narasi. Setiap menu membawa jejak sejarah, dari masa sulit ketika beras susah, hingga kebiasaan dapur yang bertahan melalui generasi.

Ketika orang mencari Soto Bok Ireng atau Nasi Ampok Totokan, mereka tidak hanya mencari lokasi. Mereka mencari konteks, asal-usul, dan alasan mengapa rasa itu lahir.

Ketiga, Blitar punya magnet simbolik. Kota bersejarah ini dikenal luas, termasuk karena kedekatannya dengan ruang-ruang memori nasional, seperti area sekitar Makam Bung Karno.

Di media sosial, lokasi yang memuat sejarah mudah menjadi bahan percakapan. Kuliner lalu berfungsi sebagai cara paling ringan untuk “mengunjungi” sejarah tanpa harus berpidato.

-000-

Blitar sebagai Kota Rasa dan Kota Ingatan

Berita itu menempatkan Blitar sebagai kota bersejarah sekaligus surga kuliner tradisional. Dua identitas ini saling menguatkan, bukan saling menutup.

Sejarah sering terasa berat bila hanya dibaca di prasasti. Namun ketika sejarah hadir lewat semangkuk soto atau sebungkus wajik, ia menjadi hangat dan bisa didekati.

Di Blitar, tradisi agraris disebut sebagai akar dari kuliner khas. Dari situ kita memahami bahwa makanan bukan sekadar menu, melainkan hasil hubungan manusia dan tanah.

Resep yang diwariskan lintas generasi menandai keberlanjutan. Ia menunjukkan bahwa ada pengetahuan rumah tangga yang tidak selalu tercatat, tetapi hidup dalam praktik.

Di tengah modernisasi, praktik semacam itu mudah tergerus. Karena itulah, kabar tentang kuliner yang “masih bertahan” memantik perhatian, bahkan sebelum orang mencicipinya.

-000-

Lima Kuliner yang Disebut Paling Autentik

Daftar yang dibicarakan publik menyebut lima kuliner. Kelimanya tidak dipresentasikan sebagai kemewahan, melainkan sebagai ketekunan menjaga cara memasak dan rasa.

Soto Bok Ireng disebut sudah ada sejak era 1940-an. Ia menjadi ikon karena kuah hitam pekat dari kecap manis dan racikan sambal khas.

Isian soto ini lengkap: daging sapi, jeroan seperti babat dan ati, tauge, kol, serta taburan gajih yang menambah aroma gurih.

Berita menekankan proses memasak menggunakan kayu bakar dan kuali tanah liat. Detail ini penting karena cara memasak sering menjadi “bahasa” yang membedakan rasa.

Lokasinya di Jalan Kelud, Kepanjen Lor, Kepanjenkidul. Warung buka pagi hingga siang, dan kerap padat pada jam sarapan menjelang siang.

Pecel Mbok Bari disebut eksis sejak 1964. Ia dikenal sebagai menu sarapan favorit warga, dengan bumbu kacang yang gurih dan pedas seimbang.

Yang membuatnya diburu adalah konsistensi rasa dari dulu hingga sekarang, serta harga yang terjangkau. Dalam logika kuliner tradisional, keterjangkauan adalah bagian dari etos.

Warung aslinya berada di Jalan Ir. Soekarno, Sentul, Kepanjenkidul, tidak jauh dari Makam Bung Karno. Ada cabang yang tetap dikelola keluarga besar.

Nasi Ampok Totokan berasal dari jagung tumbuk yang dikukus. Ia disebut sebagai saksi masa sulit ketika beras sulit didapatkan.

Teksturnya kenyal dengan aroma jagung alami. Sajian ini biasanya ditemani lauk sederhana, seperti ikan asin, sayur rebus, lodeh pedas, atau jenang gendul.

Lokasinya di kawasan Jatinom, Kecamatan Kanigoro. Tempat ini ramai sore hingga malam, menjadi tujuan pencinta rasa tempo dulu.

Lodeh Bu Martumi disebut telah ada sejak 1960. Menu andalannya sayur lodeh tewel atau nangka muda yang dimasak dengan tungku kayu bakar.

Kuah santannya digambarkan pedas-manis dengan aroma asap kayu. Isian meliputi tewel, rebung, petai, kentang, dengan lauk seperti ikan gabus, patin, atau ayam kampung lodho.

Warung ini berada di Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, sekitar 15 kilometer dari Kota Blitar. Buka sejak pagi hingga habis, dan ramai menjelang siang.

Wajik Kletik Bu Prayitno disebut diproduksi sejak 1963. Ia dikenal sebagai oleh-oleh khas Blitar yang ikonik.

Teksturnya unik, sedikit keras dan berbunyi saat dikunyah. Rasanya manis legit dari gula jawa, dibungkus klobot jagung kering yang memberi aroma alami.

Wajik ini mudah ditemukan di Pasar Blitar maupun sekitar pusat kota. Datang pagi disarankan agar mendapat stok yang masih segar.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa “Autentik” Terasa Penting

Tren kuliner jadul bukan fenomena tanpa kerangka. Dalam kajian warisan budaya, makanan sering dipahami sebagai bagian dari warisan budaya takbenda.

Konsep warisan budaya takbenda menekankan praktik, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Kuliner tradisional masuk di dalamnya karena hidup lewat kebiasaan.

Di sisi lain, riset tentang pariwisata kuliner menunjukkan bahwa wisatawan mencari pengalaman yang dianggap otentik. Mereka mengejar cerita, bukan hanya porsi.

Keotentikan di sini bukan berarti beku. Namun publik sering mengaitkannya dengan konsistensi rasa, bahan lokal, dan teknik tradisional yang tidak diputus oleh industrialisasi.

Berita Blitar menonjolkan tiga hal itu: resep turun-temurun, bahan lokal, dan cara memasak tradisional. Ini menjelaskan mengapa ia mudah menjadi bahan perbincangan.

Riset lain tentang nostalgia juga relevan. Nostalgia dapat meningkatkan kedekatan emosional, membuat orang merasa aman, dan menguatkan identitas ketika perubahan terasa melelahkan.

Karena itu, semangkuk soto atau sebungkus wajik bisa menjadi “jangkar” psikologis. Ia mengingatkan bahwa ada hal yang tidak harus berubah untuk tetap bernilai.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar di Indonesia

Tren kuliner jadul Blitar beririsan dengan isu besar ketahanan budaya. Indonesia sering membicarakan pembangunan fisik, tetapi ketahanan budaya menentukan arah jangka panjang.

Ketika warung-warung lawas bertahan, mereka menjaga ekosistem pengetahuan kuliner. Mereka juga menjaga kosakata rasa yang membentuk identitas daerah.

Isu ini juga berkaitan dengan ekonomi lokal. Kuliner tradisional biasanya bertumpu pada rantai pasok yang dekat, serta kerja keluarga yang menjaga kualitas dan ritme produksi.

Namun ada tantangan: regenerasi pelaku, perubahan selera, dan tekanan biaya. Ketika generasi muda enggan meneruskan, sebuah rasa bisa hilang tanpa sempat didokumentasikan.

Selain itu, ada isu pemerataan pariwisata. Perhatian publik yang terkonsentrasi pada kota-kota besar bisa bergeser ketika daerah seperti Blitar menawarkan pengalaman yang berbeda.

Jika dikelola bijak, tren ini membantu diversifikasi tujuan wisata. Tetapi jika dikelola serampangan, ia bisa mendorong komersialisasi berlebihan yang justru mengikis keaslian.

-000-

Rujukan Peristiwa Serupa di Luar Negeri

Fenomena “makanan lama menjadi baru” pernah terlihat di berbagai negara. Di Jepang, kedai-kedai tua dan tradisi washoku sering dipandang sebagai penanda identitas.

Washoku bahkan diakui sebagai warisan budaya takbenda. Pengakuan seperti itu memperkuat kebanggaan lokal, sekaligus mendorong upaya menjaga teknik dan ritual makan.

Di Korea Selatan, minat pada hanjeongsik dan kuliner rumahan tradisional juga menguat seiring gelombang budaya populer. Tradisi dapur menjadi bagian dari narasi bangsa.

Di Italia, perlindungan terhadap makanan regional kerap diperdebatkan melalui standar asal-usul dan cara produksi. Tujuannya menjaga keterlacakan dan reputasi rasa.

Rujukan ini tidak untuk menyamakan kondisi. Namun ia menunjukkan bahwa ketika dunia makin seragam, negara-negara justru menegaskan kekhasan lewat makanan.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik bisa menanggapinya dengan cara paling sederhana: datang dengan sikap hormat. Antre dengan tertib, menghargai ritme warung, dan tidak memaksa semuanya serba cepat.

Kedua, pemerintah daerah dan komunitas bisa fokus pada perlindungan ekosistem, bukan sekadar promosi. Yang dijaga adalah keberlanjutan bahan, pelaku, dan pengetahuan memasak.

Ketiga, peliputan media dan konten kreator sebaiknya menonjolkan konteks, bukan hanya sensasi. Kuliner jadul rentan diperas menjadi gimmick jika narasinya dipotong.

Keempat, pendidikan vokasi dan program regenerasi kuliner lokal dapat dipertimbangkan. Banyak warisan rasa hilang bukan karena tak enak, melainkan karena tak ada penerus.

Kelima, dokumentasi menjadi penting. Resep, teknik, dan kisah bisa dicatat tanpa mengubahnya menjadi produk massal, sehingga pengetahuan tetap hidup sekaligus terlindungi.

-000-

Penutup: Rasa yang Mengajarkan Ketahanan

Daftar lima kuliner Blitar itu mengingatkan bahwa kekuatan rasa tidak selalu lahir dari yang baru. Kadang ia lahir dari kesetiaan pada cara lama yang bekerja.

Di tahun 2026, ketika orang memburu yang autentik, sesungguhnya mereka sedang memburu sesuatu yang lebih luas: kepastian, keterhubungan, dan identitas yang tidak mudah tergantikan.

Blitar menawarkan itu lewat soto, pecel, nasi jagung, lodeh, dan wajik. Ia mengajak kita memahami sejarah bukan sebagai beban, melainkan sebagai meja makan bersama.

Pada akhirnya, cara kita memperlakukan kuliner tradisional adalah cara kita memperlakukan ingatan kolektif. Jika kita menjaganya, kita sedang menjaga diri sendiri.

“Yang paling berharga sering tidak berteriak. Ia bertahan, diam-diam, sampai kita cukup hening untuk mendengarnya.”