Kabar itu cepat menyala di linimasa Indonesia.
Tripadvisor menobatkan Hong Kong sebagai destinasi kuliner terbaik di Asia 2026.
Dalam daftar yang sama, Hong Kong mengungguli Bangkok dan Hanoi.
Judul yang beredar luas menyebut satu detail yang memantik emosi.
Hong Kong disebut mengalahkan Jakarta.
Di titik itulah, berita ini menjadi tren.
Bukan semata soal makanan, melainkan soal gengsi kota.
Juga soal rasa memiliki, dan rasa tertinggal.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren di Indonesia
Tren pertama lahir dari kompetisi simbolik antar kota.
Jakarta bukan sekadar ibu kota.
Jakarta adalah panggung identitas modern Indonesia, dengan semua kontradiksinya.
Saat namanya dikontraskan dengan Hong Kong, publik membaca pesan yang lebih besar.
Apakah Jakarta masih relevan sebagai kota global di Asia?
Apakah selera dunia sedang bergeser menjauh dari kita?
-000-
Alasan kedua adalah daya tarik daftar dan peringkat.
Manusia menyukai angka, urutan, dan pemenang.
Peringkat memberi ilusi kepastian dalam dunia yang serba relatif.
Di era media sosial, peringkat mudah dipotong menjadi konten singkat.
Orang membagikan, lalu memperdebatkan, tanpa sempat menguji konteks.
-000-
Alasan ketiga adalah kedekatan emosional dengan kuliner.
Makanan bukan hanya konsumsi.
Makanan adalah memori, keluarga, kelas sosial, dan kebanggaan daerah.
Saat sebuah kota dinilai unggul karena keragaman masakan khasnya, publik Indonesia merasa tertantang.
Negeri ini juga hidup dari keragaman rasa.
-000-
Apa yang Sebenarnya Dikatakan Berita Itu
Fakta intinya sederhana.
Tripadvisor menobatkan Hong Kong sebagai destinasi kuliner terbaik di Asia 2026.
Hong Kong unggul atas Bangkok dan Hanoi.
Penekanan pada masakan khas yang beragam menjadi alasan yang disebut.
Di luar itu, ruang tafsir publik melebar.
Dan di situlah perbincangan Indonesia tumbuh.
-000-
Hong Kong, Keragaman Rasa, dan Imajinasi Kota
Hong Kong sering dipahami sebagai simpul pertemuan.
Ia kota pelabuhan, kota dagang, kota transit.
Di kota seperti itu, makanan menjadi bahasa yang paling cepat menyatukan orang asing.
Keragaman kuliner lalu terasa sebagai bukti keterbukaan.
Dan keterbukaan sering dibaca sebagai kemajuan.
-000-
Namun penghargaan kuliner tidak hanya menilai rasa.
Ia menilai pengalaman.
Pengalaman mencakup akses, kenyamanan, cerita, dan konsistensi.
Orang bepergian untuk merasakan sesuatu yang utuh.
Bukan sekadar mengunyah, lalu pulang.
-000-
Jakarta dalam Cermin Perbandingan
Perbandingan dengan Jakarta memunculkan pertanyaan yang lebih sunyi.
Apakah ekosistem kuliner kita sudah diperlakukan sebagai ekosistem?
Atau masih dianggap urusan pedagang semata?
Jakarta punya ragam rasa yang besar.
Tetapi ragam saja tidak selalu cukup untuk menjadi destinasi.
-000-
Destinasi membutuhkan kurasi dan keterhubungan.
Orang ingin tahu harus mulai dari mana.
Orang juga ingin merasa aman, nyaman, dan dipandu.
Kota yang memudahkan orang mencari rasa, biasanya menang dalam ingatan wisatawan.
-000-
Kuliner sebagai Ekonomi Pengalaman
Di banyak kota dunia, kuliner dipahami sebagai ekonomi pengalaman.
Nilainya tidak berhenti pada transaksi piring dan meja.
Nilainya merembet ke hotel, transportasi, tur, dan cendera mata.
Ketika orang datang untuk makan, mereka ikut menghidupkan rantai ekonomi.
Dan rantai itu menyerap tenaga kerja.
-000-
Riset tentang pariwisata kuliner kerap menekankan satu hal.
Makanan membentuk citra destinasi.
Citra itu memengaruhi keputusan perjalanan.
Di studi pemasaran destinasi, kuliner sering disebut sebagai penanda keaslian.
Keaslian membuat orang merasa perjalanannya bermakna.
-000-
Dalam kerangka itu, penghargaan Tripadvisor menjadi lebih dari trofi.
Ia menjadi sinyal pasar.
Ia memengaruhi percakapan, lalu memengaruhi pilihan.
Indonesia wajar bereaksi, karena sinyal semacam ini terasa dekat dengan dompet.
-000-
Isu Besar yang Tersambung: Daya Saing Kota dan Pariwisata Nasional
Berita ini menempel pada isu besar daya saing kota.
Indonesia sedang menguji ulang pusat pertumbuhan.
Jakarta tetap magnet, tetapi kota lain juga ingin bersinar.
Dalam konteks itu, reputasi kuliner menjadi aset lunak.
Aset lunak bisa bergerak cepat melintasi batas.
-000-
Isu ini juga bersentuhan dengan strategi pariwisata.
Indonesia sering menonjolkan alam.
Pantai, gunung, dan pulau menjadi poster utama.
Kuliner sering hadir sebagai pelengkap, bukan narasi inti.
Padahal banyak wisatawan mengingat rasa lebih lama daripada pemandangan.
-000-
Di sisi lain, kuliner menyentuh isu ketahanan budaya.
Masakan khas adalah arsip hidup.
Ia menyimpan teknik, bahan, dan cerita migrasi.
Jika ekosistemnya rapuh, yang hilang bukan hanya usaha kecil.
Yang hilang adalah ingatan kolektif.
-000-
Mengapa Peringkat Mudah Memantik Perdebatan
Peringkat membelah orang menjadi dua kubu.
Kubu yang percaya, dan kubu yang menolak.
Yang menarik, keduanya sering sama-sama emosional.
Ini dapat dijelaskan lewat psikologi identitas sosial.
Kelompok cenderung membela simbolnya saat dibandingkan.
-000-
Selain itu ada efek ketersediaan informasi.
Orang menilai berdasarkan contoh yang mudah diingat.
Jika pernah kecewa di satu tempat makan, ia menggeneralisasi kota.
Jika pernah terpukau di satu sudut, ia menganggap kota itu unggul.
Padahal pengalaman selalu parsial.
-000-
Di ruang digital, parsialitas menjadi bahan bakar.
Potongan cerita lebih cepat viral daripada uraian panjang.
Judul yang menyebut “mengalahkan Jakarta” mempercepat reaksi.
Ia memanggil rasa kompetitif, bahkan ketika detail metodologinya tidak dibahas.
-000-
Pelajaran dari Luar Negeri: Ketika Kuliner Menjadi Diplomasi Kota
Banyak kota di luar negeri membangun reputasi melalui kuliner.
Contoh yang sering dibahas adalah Singapura.
Pusat jajanan atau hawker centre diposisikan sebagai ikon wisata.
Ia dipromosikan sebagai pengalaman harian yang dapat diakses.
Brand kota menempel pada tempat makan sederhana.
-000-
Contoh lain adalah Bangkok.
Kota ini lama dikenal lewat street food yang hidup.
Perdebatan penataan pedagang kaki lima sempat menjadi sorotan internasional.
Namun narasi besarnya tetap sama.
Bangkok menjual energi kuliner sebagai alasan datang.
-000-
Ada pula Seoul yang membangun gelombang budaya populer.
Drama dan musik mendorong orang mencari makanan yang mereka lihat di layar.
Di sini terlihat hubungan antara industri kreatif dan kuliner.
Kota yang pandai bercerita, lebih mudah mengubah rasa menjadi perjalanan.
-000-
Membaca Penghargaan Tanpa Minder, Tanpa Jumawa
Penghargaan seperti ini bisa dibaca sebagai cermin, bukan vonis.
Hong Kong menang dalam daftar tertentu pada tahun tertentu.
Itu kabar penting, tetapi bukan akhir dari kisah kota lain.
Jakarta tidak otomatis kalah selamanya.
Indonesia juga tidak otomatis tertinggal.
-000-
Yang lebih penting adalah reaksi kita.
Apakah kita menjadikannya bahan ejekan, atau bahan kerja?
Apakah kita sibuk mencari pembenaran, atau mencari perbaikan?
Tren di Google menunjukkan perhatian publik.
Perhatian publik adalah modal, jika diarahkan.
-000-
Rekomendasi: Cara Menanggapi Isu Ini dengan Dewasa
Pertama, pisahkan kebanggaan dari penyangkalan.
Kita boleh bangga pada kuliner Indonesia.
Tetapi kebanggaan tidak perlu menutup mata pada pekerjaan rumah.
Diskusi publik sebaiknya fokus pada perbaikan ekosistem.
Bukan pada adu hina antar kota.
-000-
Kedua, dorong literasi tentang bagaimana daftar dibuat.
Publik perlu terbiasa membaca konteks.
Daftar wisata biasanya berbasis ulasan, persepsi, dan pengalaman pengguna.
Itu berguna, namun tidak identik dengan kebenaran tunggal.
Dengan literasi, debat menjadi lebih tenang.
-000-
Ketiga, jadikan kuliner sebagai agenda lintas sektor.
Kuliner menyangkut UMKM, pariwisata, kesehatan, dan tata kota.
Jika ingin kota kuat sebagai destinasi, unsur dasar harus diperhatikan.
Akses transportasi, kebersihan, dan kenyamanan ruang publik memengaruhi pengalaman makan.
-000-
Keempat, kuatkan narasi kuliner sebagai cerita Indonesia.
Keragaman masakan khas bukan hanya daftar menu.
Ia kisah perjumpaan budaya dan sejarah mobilitas.
Jika cerita itu dirawat, wisatawan tidak sekadar kenyang.
Mereka merasa terhubung.
-000-
Kelima, bangun kebiasaan mengapresiasi tanpa menutup kritik.
Ulasan yang jujur membantu pelaku usaha berkembang.
Apresiasi yang matang juga menjaga ruang publik dari sinisme.
Kota yang sehat adalah kota yang warganya mampu menilai dengan adil.
-000-
Penutup: Dari Peringkat Menuju Pekerjaan Rumah
Hong Kong dinobatkan sebagai destinasi kuliner terbaik di Asia 2026.
Ia unggul atas Bangkok dan Hanoi, dengan keragaman masakan khas yang disebut menonjol.
Di Indonesia, kabar itu menjadi tren karena menyentuh identitas, peringkat, dan emosi kolektif tentang rasa.
-000-
Di balik keramaian, ada kesempatan untuk merenung.
Kuliner bukan sekadar urusan lidah.
Ia urusan kota, budaya, dan martabat kerja sehari-hari.
Jika kita ingin dihormati sebagai destinasi, kita perlu merawat pengalaman dari hulu ke hilir.
Mulai dari bahan, ruang, hingga cerita.
-000-
Pada akhirnya, peringkat akan datang dan pergi.
Yang tinggal adalah cara kita membangun rumah bagi rasa.
Dan cara kita memperlakukan orang yang memasak di balik layar.
Karena kemajuan kota sering terlihat dari hal sederhana.
Apakah ia membuat orang merasa diterima, bahkan sebelum suapan pertama.
-000-
Seperti kata pepatah yang kerap diulang dalam berbagai versi, kita diingatkan.
“Jangan takut berjalan pelan, takutlah jika berhenti.”

