Kapuas Hulu, Kalimantan Barat — Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, masyarakat di perbatasan Indonesia–Malaysia, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, terus menjaga kearifan lokal. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah pansuh, teknik memasak khas Suku Dayak Iban yang memanfaatkan bambu sebagai wadah sekaligus media pengolahan makanan.
Jika selama ini pansuh lebih dikenal melalui manuk pansuh berbahan daging ayam, warga setempat juga memperkenalkan varian pansuh sayur. Dalam sajian ini, sayuran segar seperti kangkung dan daun ubi dimasukkan ke dalam potongan bambu muda, kemudian dipanggang perlahan di atas api terbuka.
Teknik memasak tersebut menghasilkan aroma khas bambu yang meresap ke dalam sayur. Selain menghadirkan cita rasa alami, proses pengolahan ini juga dilakukan tanpa minyak maupun bahan pengawet.
Kepala Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau, Wendelinus Fanu, menyebut metode pansuh mencerminkan hubungan yang selaras antara manusia dan alam. “Metode memasak pansuh ini menjadi simbol keharmonisan antara manusia dan alam. Semua bahan berasal dari alam sekitar seperti bambu dari hutan, sayur dari kebun. Ini bentuk nyata bagaimana kearifan lokal Dayak Iban mampu menghasilkan sajian yang tidak hanya bergizi, tapi juga kaya nilai budaya,” ujarnya.
Menurut Wendelinus, pansuh tidak hanya hadir dalam keseharian, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai kegiatan adat dan sosial. Tradisi ini kerap disajikan dalam peristiwa seperti Gawai Dayak, penyambutan tamu kehormatan, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Ia menilai pelestarian kuliner tradisional juga dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. “Pelestarian budaya kuliner ini menjadi sarana edukatif bagi generasi muda, agar mereka mengenal, mencintai, dan bangga dengan akar budayanya sendiri,” katanya.
Suku Dayak Iban yang mendiami kawasan Kapuas Hulu dan sebagian wilayah Sarawak, Malaysia, dikenal memiliki kekayaan adat istiadat, termasuk Gawai Dayak yang digelar setiap tahun untuk memperkenalkan seni, budaya, dan kuliner khas kepada publik.
Dalam konteks kawasan perbatasan, pengenalan pansuh sayur dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas lokal sekaligus membuka peluang pengembangan wisata budaya. Harapannya, pemerintah daerah, tokoh adat, dan komunitas masyarakat dapat terus bersinergi menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.
Wendelinus menambahkan, PLBN Badau sebagai pintu gerbang lintas batas Indonesia–Malaysia menyatakan dukungan terhadap inisiatif pelestarian budaya lokal di wilayah Badau.
Melalui kuliner pansuh, masyarakat Dayak Iban di perbatasan Badau menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan yang terus dijaga dan diteruskan lintas generasi.

