Perburuan ramen, sushi, hingga jajanan kaki lima kerap menjadi agenda utama wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Namun, pengalaman kuliner yang lancar tidak hanya ditentukan oleh daftar tempat makan yang ingin didatangi, melainkan juga kemampuan menemukan lokasi yang tepat serta memahami apa yang dipesan.
Dalam materi yang dirilis TravelKon, konektivitas data disebut sebagai faktor yang membantu wisatawan menavigasi area kuliner yang sering tersembunyi—mulai dari kedai mi di gang sempit hingga konter sushi kecil di stasiun kereta bawah tanah Tokyo. Dengan koneksi data lokal yang stabil, aplikasi peta dapat digunakan secara real time untuk mengarahkan pengguna hingga ke tujuan. Koneksi yang andal juga memungkinkan wisatawan mengambil keputusan spontan, misalnya mengecek alasan antrean panjang warga lokal melalui pencarian cepat.
TravelKon menyebut eSIM Jepang yang terhubung ke jaringan operator besar seperti Docomo atau KDDI dapat membantu mengurangi ketidakpastian saat mengandalkan peta digital. Dengan demikian, ponsel dapat berfungsi sebagai alat navigasi yang konsisten selama perjalanan.
Selain menemukan lokasi, tantangan lain yang umum ditemui wisatawan adalah memahami menu, terutama di izakaya atau pub kasual yang sering menampilkan daftar menu beraksara Kanji tanpa gambar. TravelKon menyoroti penggunaan fitur kamera pada Google Translate untuk menerjemahkan menu secara langsung di layar. Menurut perusahaan, proses terjemahan yang cepat membutuhkan koneksi data yang stabil; koneksi yang buruk dapat membuat hasil terjemahan terlambat atau tidak akurat.
Konektivitas juga berperan dalam aktivitas berbagi konten. Dalam rilis tersebut, TravelKon menilai wisatawan kerap ingin mengunggah foto atau video makanan segera dari tempat makan, bukan menunggu akses Wi-Fi hotel. Kebutuhan ini mencakup unggahan video, siaran singkat, hingga konten beresolusi tinggi dari kawasan kuliner seperti Dotonbori di Osaka. Karena itu, perusahaan menekankan pentingnya paket data yang memadai bagi pengguna yang aktif di media sosial, termasuk opsi paket besar atau tanpa batas.
TravelKon juga menyoroti bahwa wisata kuliner tidak berhenti di kota-kota besar. Sejumlah pengalaman kuliner disebut berada di wilayah regional, seperti daging Hida di Takayama, hidangan laut segar di pasar Hokkaido, atau jajanan di festival lokal. Untuk perjalanan semacam ini, koneksi data digunakan untuk mencari informasi kuliner setempat, mengecek jadwal kereta, hingga merencanakan perjalanan dadakan. Perusahaan menambahkan bahwa sebagian paket roaming atau SIM murah dapat memiliki cakupan yang lebih lemah di luar kota besar, sehingga koneksi pada jaringan utama dinilai membantu wisatawan tetap terhubung di area yang lebih kecil.
Dari sisi kemudahan, TravelKon menjelaskan eSIM dapat dipasang dengan memindai kode QR sebelum keberangkatan, sehingga pengguna dapat terhubung beberapa menit setelah tiba di bandara seperti Narita atau Haneda tanpa perlu mencari mesin penjual kartu SIM. Perusahaan turut menyebut opsi paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari paket tanpa batas untuk pengguna yang intens berbagi konten, eSIM multi-negara untuk perjalanan lintas destinasi di Asia, hingga paket data fleksibel untuk kebutuhan peta dan terjemahan.
TravelKon merupakan perusahaan asal Australia yang berdiri pada 2019 dan menyatakan menyediakan paket data eSIM untuk lebih dari 180 destinasi melalui kemitraan dengan operator telekomunikasi di berbagai negara.

