Di tengah tren gaya hidup sehat dan banjir informasi kesehatan di media sosial, sejumlah mitos gizi masih bertahan di masyarakat. Di antaranya anggapan bahwa anak bertubuh gemuk pasti sehat, makan malam menjadi penyebab utama kenaikan berat badan, serta nasi dianggap sebagai biang perut buncit.
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, menilai pandangan tersebut lahir dari cara pandang lama yang belum sepenuhnya memahami prinsip gizi seimbang. Menurutnya, ukuran kesehatan tidak dapat ditentukan hanya dari tampilan fisik, dan persepsi keliru dapat meningkatkan risiko penyakit kronis sejak usia muda.
“Kalau zaman dulu gemuk dianggap lambang kemakmuran atau kesejahteraan, sekarang kita menyadari bahwa gemuk juga membuat seseorang lebih mudah terekspos penyakit tidak menular,” ujarnya.
Prof Ali menjelaskan, indikator anak sehat seharusnya merujuk pada kesesuaian berat badan dan tinggi badan berdasarkan standar medis. Kegemukan, kata dia, merupakan faktor risiko penting yang berkaitan dengan hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya.
“Hipertensi, diabetes, penyakit gula, salah satunya disebabkan oleh faktor risiko penting yaitu kegemukan,” jelasnya.
Di sisi lain, kekhawatiran orang tua terhadap anak bertubuh kecil juga kerap memunculkan salah persepsi. Prof Ali menegaskan bahwa anak kecil tidak otomatis mengalami stunting karena stunting memiliki ukuran yang jelas.
“Stunting itu sudah ada ukurannya. Setiap posyandu mengetahui standarnya. Misalnya anak usia lima tahun tingginya hanya 90 sentimeter, maka itu stunting karena indikatornya tinggi badan,” terangnya.
Ia menyebut standar penilaian tersebut tersedia di puskesmas maupun melalui kader posyandu, sehingga masyarakat dapat memperoleh pengukuran yang objektif dan terukur.
Terkait anggapan bahwa makan malam menjadi penyebab utama kenaikan berat badan, Prof Ali menyatakan persoalan utamanya bukan semata waktu makan, melainkan jeda antara makan dan tidur. Ia menyarankan adanya waktu cukup agar pencernaan berlangsung optimal.
“Tubuh membutuhkan jeda empat sampai lima jam antara makan dan waktu tidur agar proses pencernaan berlangsung optimal,” katanya.
Karena itu, ia lebih menganjurkan makan sore, terutama bagi kelompok usia paruh baya yang metabolisme tubuhnya mulai menurun.
Sementara soal nasi yang kerap dituding sebagai penyebab utama kegemukan, Prof Ali menilai masalahnya lebih berkaitan dengan kebiasaan konsumsi. Ia mengatakan nasi sering dianggap bermasalah karena banyak orang cenderung mengonsumsinya dalam jumlah lebih besar.
“Mengapa nasi sering dianggap bermasalah? Karena nasi itu enak. Ketika orang makan nasi enak, dia cenderung makan lebih banyak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jika sumber karbohidrat lain seperti singkong atau ubi dikonsumsi berlebihan, dampaknya terhadap berat badan tetap sama.
“Saya melihatnya bukan semata karena kalorinya, tetapi karena kuantitas yang dikonsumsi. Orang makan nasi biasanya jumlahnya lebih banyak,” pungkasnya.
Melalui edukasi gizi yang tepat, Prof Ali berharap masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau bentuk tubuh tertentu, melainkan keseimbangan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

