Surabaya—Berpuasa seharian memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan detoksifikasi dan perbaikan metabolisme. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang bila pola makan saat berbuka dan sahur tidak terkelola dengan baik.
Pakar gizi Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Yuni Nurwati, menilai persoalan utama selama puasa bukan terletak pada lamanya menahan lapar, melainkan kebiasaan “balas dendam” saat berbuka. Ia menyoroti praktik langsung menyantap gorengan dan minuman manis tanpa diawali minum air putih, yang dinilai membuat kebutuhan zat gizi mikro tidak terpenuhi secara optimal.
Yuni menjelaskan, pilihan karbohidrat yang kurang tepat kerap terjadi, sementara protein serta serat dari sayur dan buah justru diabaikan. Padahal, keseimbangan nutrisi diperlukan untuk menjaga stabilitas metabolisme setelah tubuh beristirahat selama berjam-jam.
Menurutnya, konsumsi gula sederhana secara berlebihan saat berbuka dapat memicu lonjakan glukosa darah secara drastis atau glucose spike. Jika pola ini berulang sepanjang bulan puasa, risikonya dapat mengarah pada gangguan metabolik, seperti dislipidemia hingga sindrom metabolik.
Selain asupan makanan, strategi hidrasi juga menjadi perhatian. Yuni menyebut dehidrasi sering terjadi karena konsumsi air putih cenderung menurun selama rentang waktu berbuka hingga sahur. Padahal, kebutuhan cairan tubuh tetap sama untuk menjaga fungsi organ tetap optimal.
Ia menekankan pentingnya disiplin menerapkan prinsip 3J, yakni jenis, jumlah, dan jadwal. Pengaturan porsi serta waktu makan dinilai perlu dilakukan secara tepat agar kadar gula darah tetap stabil.
Yuni juga mengingatkan kelompok tertentu, seperti remaja dan ibu yang memiliki riwayat anemia, untuk memprioritaskan asupan protein hewani sebagai sumber zat besi. Langkah ini ditujukan agar mereka tidak mudah lemas saat beraktivitas.
Terkait kebiasaan sahur praktis, misalnya mengonsumsi mi instan, Yuni menyarankan agar tidak dilakukan terus-menerus. Ia menilai kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan kekurangan gizi.
Untuk menjaga pola makan, Yuni menganjurkan kembali pada pedoman gizi seimbang melalui konsep Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan, dengan komposisi karbohidrat, protein, sayur, dan buah yang proporsional dalam setiap sesi makan.
Di luar urusan nutrisi, ia juga menyarankan aktivitas fisik ringan untuk menjaga kebugaran, seperti jogging santai atau latihan beban dengan intensitas yang disesuaikan. Aktivitas ini dapat dilakukan menjelang berbuka agar risiko kehilangan cairan berlebih dapat diminimalkan.
Yuni menegaskan puasa dapat menjadi momentum untuk menata ulang gaya hidup melalui pengaturan makan, hidrasi, dan aktivitas fisik yang tepat.

