Praktik berbuka puasa langsung dengan makanan berat dan berlemak dinilai berisiko mengganggu kesehatan pencernaan serta dapat menurunkan kualitas ibadah selama Ramadan. Sejumlah pakar gizi merekomendasikan pemisahan waktu antara iftar dan makan malam untuk membantu menjaga stabilitas energi dan mencegah gangguan metabolik.
Menurut laporan IRNA pada Sabtu (21/2/26), Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga periode penting untuk menata ulang pola makan. Puasa memengaruhi sistem metabolisme, kadar gula darah, serta ritme biologis tubuh. Karena itu, pola konsumsi yang tidak terkontrol saat berbuka dapat memicu gangguan lambung, rasa lemas, hingga peningkatan berat badan setelah Ramadan.
Dr. Ramesh Alipour, ahli kebijakan pangan dan gizi serta anggota fakultas Gizi dan Dietetik Universitas Ilmu Kedokteran Teheran, menjelaskan bahwa tubuh memerlukan adaptasi bertahap setelah berjam-jam tanpa asupan. Ia menilai perut yang kosong belum siap menerima makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba.
Alipour menyarankan berbuka diawali dengan cairan hangat, seperti teh encer, air hangat, atau minuman manis ringan, disertai satu atau dua kurma. Menurutnya, langkah ini membantu mengaktifkan sistem pencernaan secara perlahan dan menghindari “kejutan” metabolik akibat lonjakan kalori mendadak. Cairan hangat disebut dapat merangsang kerja lambung, sementara kurma memberi asupan gula alami dalam jumlah terkontrol.
Tahap berikutnya dapat diisi dengan makanan ringan, seperti roti, keju, sayuran segar, sup sederhana, atau bubur. Setelah itu, ia menganjurkan jeda sekitar 30 menit hingga satu jam sebelum menyantap makan malam utama. “Jeda waktu memberi kesempatan bagi lambung untuk berfungsi normal kembali,” kata Alipour. Ia juga mengingatkan agar menu makan malam tidak terlalu berat serta menghindari gorengan dan makanan tinggi lemak.
Selain pengaturan tahapan makan, asupan cairan juga menjadi perhatian selama Ramadan. Alipour menyarankan konsumsi tiga hingga empat gelas cairan—seperti air putih, susu, atau teh—di antara waktu berbuka dan sahur untuk membantu mencegah dehidrasi serta menjaga fungsi ginjal dan sistem peredaran darah.
Ia menilai minuman berkarbonasi serta makanan cepat saji seperti pizza dan berbagai jenis sandwich sebaiknya dibatasi karena berpotensi meningkatkan asupan lemak jenuh dan garam. Sementara itu, menu iftar dan sahur dianjurkan mencakup seluruh kelompok makanan, termasuk karbohidrat kompleks, protein, produk susu, serta sayuran. Yogurt disebut dapat membantu memenuhi kebutuhan kalsium sekaligus mendukung kesehatan saluran cerna.
Alipour juga menyarankan konsumsi minimal dua porsi buah setelah makan malam hingga waktu tidur. Langkah ini, menurutnya, dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin sekaligus mencegah makan berlebihan. Pola makan seimbang dinilai dapat menjaga energi untuk ibadah malam dan aktivitas harian tanpa menimbulkan rasa berat atau kantuk berlebihan.
Wakil Menteri Kesehatan Iran, Alireza Raisi, turut menekankan pentingnya memilih makanan saat berbuka. Ia menganjurkan agar menghindari makanan tinggi gula sederhana dan karbohidrat cepat serap. Raisi menyebut teh hangat dan air sebagai pilihan terbaik untuk berbuka, serta menilai pembatasan makanan berkadar gula tinggi dapat membantu mencegah lonjakan insulin dan rasa kantuk setelah makan.
Raisi juga mengingatkan bahwa makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan intensitas rasa lapar pada siang hari berikutnya, yang berpotensi memengaruhi konsentrasi dan daya tahan tubuh selama puasa.
Secara umum, para ahli menilai Ramadan dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan makan. Pengaturan jadwal konsumsi, pemilihan jenis makanan, dan pengendalian porsi dinilai dapat membantu mencegah kenaikan berat badan sekaligus menjaga kebugaran. Pemisahan waktu antara iftar dan makan malam dipandang sebagai strategi untuk memberi ruang bagi sistem pencernaan bekerja optimal setelah jeda panjang, sehingga puasa dapat dijalani dengan lebih sehat dan stabil.

