BERITA TERKINI
Padang Matangkan Langkah Masuk Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027 Lewat Gastronomi

Padang Matangkan Langkah Masuk Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027 Lewat Gastronomi

Kota Padang, Sumatera Barat, tengah mematangkan langkah strategis untuk bergabung dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO pada 2027 dengan fokus pada bidang gastronomi. Pemerintah Kota (Pemko) Padang menilai kekuatan kuliner yang telah dikenal luas menjadi modal penting, sekaligus bagian dari identitas kota yang lahir dari sejarah panjang akulturasi budaya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, menjelaskan bahwa gastronomi di wilayahnya merupakan perpaduan budaya dan kuliner yang menjadi warisan bernilai. Menurutnya, kekayaan tersebut perlu diusung melalui berbagai sentra dan lini untuk memperkuat identitas Padang sebagai kota gastronomi.

Sejarah Kota Padang mencatat keberagaman budaya yang kerap dirangkum dalam istilah “Padang jalan berempat”, yakni harmoni empat pilar etnis utama: Minangkabau, India, Tionghoa, dan Nias. Jejak percampuran itu melahirkan beragam warisan budaya tak benda, mulai dari Tari Balanse Madam dan kesenian Gamad dari etnis Nias, atraksi Barongsai dari etnis Tionghoa, tradisi Makan Bajamba dari Minangkabau, hingga Serak Gulo dari etnis India keturunan Tamil.

Interaksi lintas budaya tersebut juga paling terasa dalam kuliner. Yenni menyebut, keberagaman etnis tidak membuat masing-masing komunitas hanya mempertahankan makanan sesuai identitasnya, melainkan turut memperkaya masakan Padang. Sejumlah rumah makan dan kedai menghadirkan hidangan yang dipengaruhi latar multietnis tanpa kehilangan karakter lokal.

Ia mencontohkan pengaruh Tionghoa yang melahirkan sajian Nasi Padang versi peranakan di beberapa kedai. Sementara itu, jejak India terlihat pada dominasi rempah dalam soto lokal seperti soto Garuda dan soto Rajawali, serta pada martabak Malabar. Kekuatan rempah dan bumbu inilah yang dinilai turut menarik minat masyarakat mancanegara terhadap kuliner Padang.

Upaya menuju pengakuan dunia ini, menurut Pemko Padang, tidak semata mengejar prestise. Pemerintah daerah menempatkannya sebagai strategi terpadu untuk mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama dari sektor jasa dan pariwisata.

Yenni menjelaskan, penguatan citra sebagai Kota Gastronomi diharapkan menimbulkan efek berantai bagi perekonomian. Ketika kuliner lokal semakin disorot dan diperkenalkan melalui berbagai media, minat orang untuk datang dan mencoba langsung diyakini meningkat, sehingga membuka peluang pertumbuhan UMKM dan mendongkrak kunjungan wisatawan.

Saat ini, Pemko Padang disebut sedang menyusun dokumen pengajuan untuk menghadapi seleksi nasional jejaring kota kreatif. Dari 17 kota subsektor ekonomi kreatif yang dinilai, hanya dua yang akan dipilih untuk diajukan ke tingkat dunia. Pemko Padang berharap dapat mewakili Indonesia sebagai kota gastronomi dan melanjutkan proses hingga pengajuan ke UNESCO pada 2027.

Rencana tersebut menegaskan posisi kuliner bukan sekadar urusan rasa, melainkan juga medium pemersatu lintas etnis dan penggerak ekonomi masyarakat. Pemko Padang menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci untuk mewujudkan target tersebut.