BERITA TERKINI
Obesitas dan Malnutrisi Mengintai Pekerja Modern, dari “Hidden Hunger” hingga Risiko Kecelakaan Kerja

Obesitas dan Malnutrisi Mengintai Pekerja Modern, dari “Hidden Hunger” hingga Risiko Kecelakaan Kerja

Pekerja modern kerap terlihat bugar dari luar: tubuh berisi, makan tiga kali sehari, dan sesekali mengemil saat bekerja. Namun, kondisi fisik seperti itu tidak selalu mencerminkan kecukupan gizi. Di balik asupan kalori yang tampak memadai, sebagian pekerja justru mengalami kekurangan zat gizi penting—fenomena yang dikenal sebagai hidden hunger atau kelaparan tersembunyi.

Dalam tulisan yang disusun dr. Ira Yusma Rahayu, MBBS, dijelaskan bahwa paradoks gizi ini memungkinkan seseorang mengalami obesitas sekaligus malnutrisi pada waktu yang sama. Malnutrisi tidak hanya berarti kekurangan makan atau tubuh kurus, melainkan ketidakseimbangan asupan dan kebutuhan zat gizi, termasuk gizi lebih. Akibatnya, seseorang bisa kelebihan berat badan tetapi tetap kekurangan zat besi, vitamin D, vitamin B kompleks, protein, maupun serat.

Kondisi tersebut juga disebut sebagai bagian dari tantangan global triple burden of malnutrition, yakni keberadaan kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, dan kelebihan berat badan/obesitas dalam satu populasi—bahkan pada individu yang sama. Pada kelompok pekerja, situasi ini dinilai berisiko terhadap kesehatan, keselamatan kerja, serta produktivitas dan efisiensi operasional perusahaan.

Perubahan pola kerja disebut ikut mengubah pola makan. Sarapan sering dilewatkan karena terburu-buru, makan siang dilakukan cepat, sementara makanan cepat saji dipilih karena praktis. Dampaknya, tubuh menerima kalori berlebih namun miskin vitamin, mineral, serat, dan protein berkualitas. Masalah gizi di tempat kerja pun dinilai kerap dipahami secara sempit, seolah hanya terkait kekurangan makan, padahal menurut definisi World Health Organization (WHO), malnutrisi mencakup kekurangan dan kelebihan asupan.

Indonesia, menurut tulisan tersebut, menghadapi double burden of malnutrition. Di satu sisi, masih ditemukan kekurangan zat gizi mikro seperti anemia akibat defisiensi zat besi. Di sisi lain, angka kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat, terutama pada kelompok usia produktif. Kondisi ini disebut sebagai peringatan bagi dunia kerja.

Dari sisi keselamatan kerja, obesitas tidak hanya berkaitan dengan penyakit kronis jangka panjang seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Berat badan berlebih dapat menurunkan kebugaran, mempercepat kelelahan, mengurangi kelincahan, serta meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal seperti nyeri punggung bawah dan osteoartritis. Pada pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi atau kewaspadaan, situasi ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Sementara itu, kekurangan mikronutrien juga dinilai memiliki dampak yang tidak kalah serius. Defisiensi zat besi, vitamin B kompleks, vitamin D, dan protein dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat waktu reaksi, serta memengaruhi fungsi kognitif. Pekerja mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya mudah mengantuk, sulit fokus, cepat lelah, dan lambat mengambil keputusan. Dalam sektor seperti manufaktur, transportasi, konstruksi, hingga layanan kesehatan, penurunan kewaspadaan sekecil apa pun dapat berujung fatal.

Penulis menilai hubungan gizi dan keselamatan kerja masih sering luput dari perhatian. Program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) umumnya menekankan alat pelindung diri, ergonomi, atau pencegahan kecelakaan fisik. Padahal, kualitas asupan makanan pekerja juga disebut sebagai bagian penting dari pencegahan risiko. Salah satu gambaran yang diangkat adalah pekerja dengan jam kerja panjang yang mengandalkan kopi manis, mi instan, dan gorengan. Asupan kalori mungkin cukup atau berlebih, tetapi kekurangan protein, serat, dan mikronutrien dapat memicu lonjakan energi sesaat yang cepat turun dan memicu kelelahan kerja.

Lingkungan kerja turut membentuk kebiasaan makan. Jam kerja panjang, target tinggi, stres, kurang tidur, serta minimnya akses makanan sehat mendorong pekerja memilih makanan yang cepat, murah, dan mengenyangkan. Tidak semua tempat kerja memiliki kantin sehat, fasilitas penyimpanan makanan, atau waktu istirahat yang memadai. Karena itu, masalah gizi dinilai tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada individu; perusahaan juga memiliki peran strategis dalam membentuk lingkungan yang mendukung kebiasaan makan sehat.

Sejumlah langkah yang disarankan antara lain menyediakan pilihan makanan sehat di kantin, membatasi dominasi makanan ultra-proses, memastikan akses air minum yang cukup, serta melakukan edukasi rutin tentang nutrisi kerja. Intervensi lain yang disebut penting meliputi pemeriksaan kesehatan berkala, penilaian status gizi, dan promosi aktivitas fisik. Tulisan tersebut juga menyebut adanya temuan dari beberapa studi bahwa investasi pada program kesehatan dan nutrisi pekerja berkorelasi dengan penurunan absensi, peningkatan produktivitas, dan efisiensi biaya kesehatan perusahaan.

Kesimpulan yang ditekankan adalah perlunya memperluas perspektif K3. Keselamatan kerja tidak hanya soal perlengkapan pelindung dan prosedur, tetapi juga dimulai dari apa yang dikonsumsi pekerja setiap hari. Tubuh yang kelebihan kalori tetapi kekurangan nutrisi disebut sama rentannya dengan tubuh yang kekurangan makan. Obesitas dan malnutrisi dipandang sebagai dua sisi dari persoalan kualitas gizi yang perlu menjadi bagian dari strategi kesehatan dan keselamatan kerja di era modern.