Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Nyanyat Foodies, membagikan perjalanan bisnisnya dalam program UMKM Bicara RRI Pro 1 Banjarmasin, Senin sore, 4 Mei 2926. Program tersebut mengangkat tema “Inspirasi Sederhana Jadi Bisnis Laris” dan menghadirkan Fatimah, pemilik usaha kuliner Nyanyat Foodies.
Dalam perbincangan itu, Fatimah menceritakan bagaimana Nyanyat Foodies dibangun dengan mengusung kuliner khas Banjar yang dipadukan dengan inovasi modern. Produk yang ditawarkan tetap mempertahankan cita rasa lokal, namun dikemas lebih menarik untuk menyesuaikan selera pasar masa kini.
Fatimah memulai usaha pada 2020 di tengah pandemi Covid-19 dengan modal awal Rp500 ribu. Ia merintis bisnis dari skala kecil dengan fokus pada makanan khas Banjar yang memiliki daya simpan lebih lama, sehingga memudahkan konsumen menikmati lauk praktis dalam berbagai situasi.
“Produk yang menjadi unggulan kami meliputi kentang mustofa, rabuk ayam, dan rabuk haruan. Selain itu, tersedia mamandai, bawang goreng, serta minuman bunga telang,” kata Fatimah.
Menurutnya, produk Nyanyat Foodies kini telah dipasarkan di berbagai toko modern dan pusat oleh-oleh. Distribusi juga menjangkau swalayan hingga rumah makan di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Fatimah mengatakan usahanya dilandasi niat kuat dan keberanian untuk memulai. Ia ingin menghadirkan pilihan lauk praktis yang dapat dinikmati semua kalangan.
Di tengah persaingan yang ketat, ia menyebut Nyanyat Foodies berupaya menjaga kualitas rasa, terus berinovasi, dan aktif melakukan promosi baik secara daring maupun door to door. Produk Nyanyat Foodies juga disebut telah memiliki legalitas lengkap dan sertifikasi halal, serta telah menembus pasar internasional hingga Australia.
Untuk menjaga mutu, produk dikemas secara higienis dan diklaim mampu bertahan hingga lima bulan. Penyimpanan dapat dilakukan pada suhu ruang dengan menghindari paparan sinar matahari langsung.
Dalam pengembangan usaha, Fatimah juga memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini, Nyanyat Foodies mempekerjakan tujuh karyawan dari lingkungan terdekat. Strategi pemasaran dilakukan melalui media sosial dan kerja sama dengan influencer, yang menurutnya efektif membantu meningkatkan penjualan pada masa pandemi.
“Modal kecil bukan halangan, yang penting berani memulai dan konsisten,” ujarnya. Ia menambahkan, pelaku usaha juga perlu memiliki identitas produk agar mudah diingat konsumen.
Ke depan, Fatimah berencana memperluas skala usaha dengan membangun pabrik yang lebih besar. Ia berharap produk lokal Banjar dapat terus berkembang dan bersaing di pasar global.
Program tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus dorongan bagi pelaku UMKM untuk terus bertumbuh, dengan inovasi dan ketekunan sebagai salah satu kunci keberhasilan.

