MATARAM — Sejumlah kuliner khas Nusa Tenggara Barat (NTB) disiapkan sebagai proyek percontohan untuk menembus pasar global. Produk yang masuk dalam pilot project tersebut antara lain ayam rarang, sate rembiga, sate pusut, ayam taliwang, sate bulayak, nasi puyung, dan sate tanjung.
Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti mengatakan upaya yang dilakukan mencakup perbaikan kualitas dan kemasan agar tampilan produk lebih baik, rapi, serta tahan lama saat dibawa ke luar kota maupun luar negeri. Menurutnya, pelaku usaha didorong bertransformasi dari skala tradisional menuju lebih industri agar jangkauan pasar semakin luas.
Dalam skema percontohan ini, setiap jenis kuliner digarap oleh satu pelaku usaha di masing-masing kabupaten/kota. Pemerintah berharap para pelaku yang terlibat dapat menjadi contoh sekaligus memotivasi usaha sejenis untuk meningkatkan kapasitas.
Nuryanti menyebut program ini tidak hanya diarahkan pada kepastian pasar, tetapi juga diharapkan menjadi solusi bagi persoalan di sektor hulu. Dengan meningkatnya produksi karena tersedianya pasar, komoditas hortikultura tingkat petani seperti cabai, bawang merah dan putih, tomat, serta lainnya dinilai berpeluang lebih terserap, terutama saat musim panen ketika harga kerap turun.
Ia juga optimistis langkah tersebut akan berdampak pada sektor industri lainnya.
Salah satu pasar yang dibidik adalah Arab Saudi. Wilayah ini dinilai potensial seiring penyebaran Covid-19 yang terus melandai, sehingga pelaksanaan haji dan umrah diharapkan dapat kembali berjalan. Selain itu, sejumlah agenda internasional seperti MotoGP dan WSBK juga dipandang sebagai peluang untuk memperkenalkan kuliner NTB. Nuryanti menilai penguatan kuliner lokal penting karena menjadi bagian turunan dari pariwisata, serta diyakini tidak akan merusak pasar yang sudah ada.
“Kalau wisatawan mau yang fresh, bisa makan di sini, kalau tidak juga kita sudah bisa kirim dengan kualitas dan daya saing lebih bagus,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Heru Saptaji mengatakan UMKM lokal yang berperan besar selama pandemi perlu menggenjot produksi. Selama ini, produk yang banyak diekspor dari NTB antara lain kopi, mutiara, sayuran, buah-buahan, vanili, dan kelor. Ia menilai tenun serta berbagai kuliner olahan juga berpotensi menjadi terobosan baru, termasuk melalui pasar virtual.
Heru menekankan pentingnya penguatan sisi hulu, mulai dari peningkatan produksi, pengendalian mutu, hingga efisiensi proses produksi, agar peluang pasar yang terbuka dapat diisi secara berkelanjutan.

