BERITA TERKINI
Ni Nengah Widiasih Rintis Usaha Kuliner, Siapkan Masa Depan di Luar Arena Para-powerlifting

Ni Nengah Widiasih Rintis Usaha Kuliner, Siapkan Masa Depan di Luar Arena Para-powerlifting

Atlet para-powerlifting asal Bali, Ni Nengah Widiasih, membantah anggapan bahwa masa depan atlet suram. Baginya, menjadi atlet justru merupakan berkah yang membentuk perjalanan hidupnya hingga saat ini.

Berbekal bonus dari pemerintah, peraih dua medali Paralimpiade itu memperluas kiprahnya dari arena angkat berat ke dunia usaha kuliner. Langkah tersebut ia pilih sebagai bagian dari persiapan jangka panjang, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Pada pertengahan Februari lalu, Ni Nengah resmi membuka rumah makan Babi Guling Balah Men Bingin di kawasan Kesiman, Denpasar. Ia menjelaskan, usaha ini berangkat dari latar belakang keluarga yang memiliki keahlian memasak, terutama sang ayah yang dikenal piawai mengolah masakan Bali seperti babi guling.

Selain mengembangkan kemampuan keluarga, rumah makan itu juga menjadi cara untuk bangkit dari duka setelah ibunya wafat. “Keluarga saya memang jago masak, terutama bapak. Jadi kenapa tidak kita kembangkan? Sekalian supaya bapak punya kesibukan setelah ibu saya meninggal,” ujar Ni Nengah.

Rencana membuka usaha tersebut sempat lama dipendam. Pencarian lokasi baru dilakukan secara serius sejak akhir 2024. Setelah melalui beberapa kesempatan, tempat yang dirasa tepat justru didapat pada akhir 2025, ketika ia mengaku sudah pasrah dan sempat menghentikan pencarian. “Saya sempat bilang tidak usah cari lagi. Kalau memang rezeki pasti datang. Ternyata di akhir 2025 dapat info tempat ini dan langsung cocok,” tuturnya.

Usaha kuliner ini menjadi bisnis pertama yang ia jalankan bersama sang kakak. Ni Nengah mengakui, dunia kuliner berbeda dengan dunia olahraga maupun investasi properti yang sebelumnya pernah ia jalani. Setelah terjun langsung, ia merasakan kompleksitas pengelolaan rumah makan. “Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di balik satu hidangan ada banyak proses dan orang yang terlibat,” katanya.

Ni Nengah, yang meraih medali perunggu di Paralimpiade Rio 2016 dan perak di Paralimpiade Tokyo 2020 serta finis kelima di Paralimpiade Paris 2024, menyadari karier atlet memiliki batas waktu. Karena itu, usaha ini ia posisikan sebagai salah satu bekal masa pensiun. “Atlet tidak mungkin selamanya. Ini salah satu persiapan masa pensiun saya. Setidaknya sudah punya usaha dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Ia menegaskan tujuan utamanya bukan semata keuntungan, melainkan kebermanfaatan. Ni Nengah ingin keberhasilan yang ia raih turut dirasakan orang lain. “Saya tidak mau sukses sendirian. Kalau kita diberi rezeki lebih, jangan disimpan sendiri. Punya satu atau dua karyawan saja itu sudah sangat berarti,” katanya.

Nama Men Bingin yang disematkan pada rumah makan tersebut diambil dari nama belakang almarhum ibunya sebagai bentuk penghormatan. Seluruh masakan diracik langsung oleh sang ayah, yang menurut Ni Nengah selalu memasak dengan penuh cinta, layaknya untuk keluarga sendiri. “Semoga yang datang bisa merasakan cinta di setiap masakan itu,” pungkasnya.

Konsistensi dan daya juang yang mengantarkannya ke panggung dunia kini kembali ia tunjukkan di luar arena. Dari angkat beban, Ni Nengah Widiasih membangun harapan lewat usaha kuliner yang dirintisnya.