Networking dinilai menjadi salah satu faktor penting yang dapat mempercepat pertumbuhan bisnis di industri food & beverage (F&B), terutama saat persaingan usaha kian ketat dan dinamis. Pelaku usaha disebut perlu tidak hanya berfokus pada kualitas produk, tetapi juga aktif membangun relasi strategis untuk memperluas peluang bisnis.
Praktisi bisnis sekaligus strategic networking advisor, Elizabeth Setiaatmadja, mengatakan pertumbuhan bisnis F&B kerap tidak semata-mata ditentukan oleh rasa dan kualitas makanan. Menurutnya, faktor kepercayaan dan rekomendasi dari jejaring yang terbangun juga berperan besar. “Di industri F&B, growth sering kali datang bukan hanya dari produk yang enak, tetapi dari siapa yang mengenal, mempercayai, dan merekomendasikan bisnis kita,” ujar Elizabeth dalam talkshow bertajuk “Beyond Great Food: The Power of Networking in Business Growth” pada ajang MoreFood Expo Indonesia 2026 di Jakarta, baru-baru ini.
Elizabeth menilai networking dapat menjadi akselerator pertumbuhan usaha karena membuka akses ke berbagai peluang yang dibutuhkan dalam pengembangan bisnis. Ia menyebut, melalui jaringan relasi, pelaku usaha berpotensi memperoleh akses ke pemasok, investor, lokasi strategis, peluang kolaborasi, eksposur media, hingga pelanggan loyal.
Ia juga menilai pameran bisnis seperti MoreFood Expo bukan sekadar tempat melihat produk, melainkan ruang untuk membangun koneksi dan menemukan peluang baru. Menurutnya, kesempatan bisnis bisa muncul dari interaksi sederhana yang tidak direncanakan selama acara berlangsung. “Kadang peluang terbesar justru datang dari percakapan yang tidak direncanakan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Elizabeth mengajak pengunjung untuk aktif membangun komunikasi, baik dengan exhibitor maupun sesama pengunjung. Berdasarkan pengamatannya, sejumlah vendor internasional menghadirkan teknologi dan produk yang masih jarang ditemukan di Indonesia serta berpotensi mendukung efisiensi bisnis F&B di dalam negeri.
Elizabeth menekankan tantangan komunikasi dalam bisnis global semestinya tidak menjadi hambatan untuk menjalin relasi. Ia menilai networking yang efektif dibangun melalui hubungan jangka panjang, bukan sekadar menawarkan produk atau melakukan penjualan secara langsung. “Networking terbaik dibangun lewat relationship terlebih dahulu, bukan langsung pitching atau jualan,” ujarnya.
Selain kemampuan komunikasi, ia juga menyoroti pentingnya personal branding, baik secara daring maupun luring, untuk memperkuat relasi profesional. Menurutnya, kombinasi visibilitas digital dan interaksi langsung merupakan strategi yang efektif untuk membangun kepercayaan dalam hubungan bisnis.

