Bandung—Di tengah padatnya jadwal kuliah, Nayyara, mahasiswi Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), merintis usaha kuliner dari dapur rumahnya. Ia mengerjakan hampir seluruh proses sendiri—mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, memanggang, mengemas, hingga mengantar pesanan—dengan bantuan ibunya.
Awal mula usahanya berangkat dari kegemarannya pada cheesecake. Menurut Nayyara, dessert itu identik dengan rasa yang lembut dan lezat, tetapi sering kali dibanderol mahal sehingga membuat banyak orang berpikir dua kali untuk membeli. Dari situ, ia mencoba membuat versi yang lebih terjangkau dengan harga Rp10.000–Rp20.000. “Aku ingin orang bisa menikmati cheesecake enak tanpa harus keluar uang besar,” ujarnya saat diwawancarai, Minggu (07/12/2025).
Upaya tersebut kemudian berkembang menjadi bisnis snack box dan dessert yang mulai memiliki pelanggan tetap. Ia menilai snack box punya peluang lebih besar karena banyak digunakan untuk kebutuhan acara kampus maupun kantor. “Snack box itu lebih banyak dipakai orang buat acara kampus atau kantor, jadi lebih berpotensi,” katanya, Minggu (07/12/2025).
Meski begitu, menjalankan bisnis sambil kuliah bukan perkara mudah. Nayyara mengaku kerap mengalami tekanan karena praktikum, tugas dengan tenggat waktu yang ketat, dan pesanan yang datang mendadak sering muncul bersamaan. Ia menyebut kondisi itu membuatnya kelelahan dan keteteran, meski ia tetap bangga karena sejauh ini mampu menyelesaikan kewajiban akademiknya tanpa pernah terlambat mengumpulkan tugas.
Promosi awal usahanya tidak dimulai dari iklan profesional atau kanal media sosial besar, melainkan dari status WhatsApp. Dari sana pesanan pertama datang, lalu bertambah perlahan. Seiring waktu, usahanya mulai dikenal, bahkan ada pelanggan yang lebih mengenal Nayyara dari bisnisnya. “Oh, yang jual snack box itu ya?” ucapnya, mengingat kalimat yang menurutnya menandakan usahanya benar-benar berjalan.
Target pelanggannya mencakup rentang usia 18–40 tahun, mulai dari kaum muda, pekerja, panitia acara, dosen, hingga komunitas kampus. Pesanan umumnya digunakan untuk rapat, seminar, kegiatan kampus, atau traktiran sederhana.
Di tengah perjalanan, Nayyara sempat mengalami peristiwa yang hampir menghentikan usahanya. Suatu malam, sehari sebelum ia harus mengantar ratusan dessert, motor yang biasa ia gunakan untuk mengirim pesanan hilang dicuri. Dalam kondisi itu, ia meminjam motor dari beberapa temannya dan berpindah dari satu motor ke motor lain demi menuntaskan pesanan. Ia berhasil memenuhi pesanan, tetapi mengaku terpukul secara emosional.
Peristiwa tersebut membuatnya vakum selama dua tahun. Ia menyebut trauma kehilangan dan rasa takut sebagai alasan ia berhenti sementara. Namun, dari kejadian itu pula ia melihat dukungan orang-orang terdekatnya, terutama teman-teman yang meminjamkan motor dan membantu tanpa diminta.
Meski sempat berhenti, keinginan Nayyara untuk kembali berjualan tidak pernah hilang. Ia merasa dunia kuliner sudah melekat dalam dirinya, terlebih ia belajar baking dari ibunya yang ia sebut ahli membuat kue. “Aku yakin kalau ini terus dijalanin, walaupun pelan-pelan, brand-ku pasti akan besar suatu hari nanti,” katanya, Minggu (07/12/2025).
Setelah kembali menjalankan usaha, ia menyusun ritme harian yang lebih teratur: pagi kuliah, siang mengerjakan tugas, lalu sore hingga malam mengerjakan pesanan. Jadwal itu tidak selalu berjalan mulus karena pesanan bisa datang tiba-tiba, termasuk saat ia sedang liburan atau memiliki rencana lain. Beberapa kali ia harus membatalkan agenda demi memenuhi order.
Nayyara menyebut hal itu sebagai bagian dari proses bertumbuh. Saat omzet sedang bagus, ia memberi penghargaan untuk dirinya sendiri bukan berupa barang, melainkan pengalaman seperti bepergian ke luar kota atau menonton konser K-pop yang sudah lama ia inginkan. Baginya, itu menjadi cara untuk mengapresiasi kerja keras yang melelahkan sekaligus tetap disyukuri.
Kini, meski brand snack box miliknya belum besar, Nayyara menilai ia sudah memiliki fondasi yang kuat: ketekunan, pengalaman pahit, keberanian untuk bangkit, dan tekad untuk terus berkembang. Dari dapur rumah yang sederhana, ia terus menata langkah demi membangun masa depan yang ia impikan.

