Di sejumlah desa di Wonogiri, pemandangan gerobak mie ayam dan bakso sudah menjadi hal yang akrab. Banyak perantau asal daerah ini dikenal berhasil membuka usaha kuliner tersebut di berbagai kota di Pulau Jawa. Saat musim mudik, tak sedikit yang pulang membawa mobil dan membangun rumah layak di kampung halaman.
Namun, di balik kisah sukses itu, beredar keyakinan yang kuat di kalangan warga: usaha mie ayam atau bakso cenderung lebih mudah berhasil selama masih di Pulau Jawa, sementara peluang gagal dianggap lebih besar ketika merantau hingga ke luar Jawa. Penjelasan yang kerap muncul pun bernuansa mistis—mulai dari anggapan “keberuntungan luruh” saat menyeberangi laut, hingga cerita pedagang yang “dijahili” pesaing lokal dengan cara gaib.
Salah satu kisah yang populer adalah makanan yang mendadak cepat basi. Ceritanya, pedagang membuat bakso atau mie ayam pada pagi hari, tetapi siang harinya sudah berbau dan terpaksa dibuang. Ada pula narasi warung yang seolah “ditutup” sehingga pembeli yang lewat tidak melihat keberadaannya.
Heri (45), pedagang mie ayam yang pernah mencoba membuka warung di Sumatra dan berakhir gagal, mengaku dulu sempat percaya pada penjelasan mistis tersebut. Ia juga mengalami kejadian kuah kaldu yang cepat bau pada siang hari. Namun, setelah kembali berdagang di Jawa dan menimbang ulang pengalamannya, Heri menyimpulkan ada faktor yang lebih masuk akal dibanding dugaan santet.
“Kalau berdasarkan pengalaman saya sih, itu kayaknya bukan karena dikerjain santet,” kata Heri, Selasa (5/5/2026). Menurutnya, perbedaan lingkungan dan bahan baku setempat berpengaruh besar, terutama kualitas air. Heri menduga air tanah di sejumlah daerah di luar Jawa memiliki karakter berbeda, seperti berbau gambut, rasa yang tidak sama, atau kadar kapur yang tinggi.
“Kuah kaldu daging sapi atau ayam itu kan sensitif banget. Kena air yang kandungannya beda sedikit saja, rebusannya pasti beda. Makanya cepat rusak atau basi,” ujarnya. Ia menambahkan, pengalaman itu membuatnya tak lagi menyandarkan kegagalan pada hal gaib.
Soal mitos warung yang “tak terlihat” hingga sepi pembeli, Heri menilai penyebabnya lebih dekat pada urusan selera. Ia menyebut mie ayam dan bakso Wonogiri memiliki kecenderungan rasa manis dan gurih. Sementara di sejumlah daerah luar Jawa, lidah warga lebih terbiasa dengan bumbu rempah yang tajam, masakan bersantan kental, atau rasa pedas yang kuat.
“Wajar kalau jualan saya dulu sepi, karena nggak bisa maksa selera Jawa ke orang Sumatra yang benar-benar berbeda,” kata Heri.
Heri juga menyinggung beban mental yang kerap dipikul perantau. Menurutnya, dalih mistis terkadang muncul karena persoalan gengsi. Ketika usaha gagal dan harus pulang kampung, sebagian orang merasa lebih aman menyebut “dikerjain” daripada mengakui kalah bersaing atau kurang cocok dengan pasar setempat.
“Gini lho, orang-orang itu gengsinya gede banget kalau sudah merantau. Pas terpaksa pulang kampung karena usahanya hancur, rasanya malu sekali kalau harus ngaku kalah saing sama pedagang sana,” ujar Heri.
Penjelasan yang menekankan faktor nonmistis juga disampaikan Ketua Paguyuban Mie Ayam Tunggal Rasa Wonogiri, Eddy Santoso. Eddy melihat anggapan “ilmu luruh saat menyeberang laut” bisa dibaca sebagai persoalan jaringan usaha. Menurutnya, salah satu alasan perantau Wonogiri banyak bertahan di Pulau Jawa adalah karena ekosistem paguyuban yang kuat.
“Di Jawa ini kita punya jaringan. Kalau ada pedagang baru butuh pasokan mie basah yang murah, kita tahu harus cari ke mana. Kalau butuh pinjaman modal darurat untuk sewa tempat, atau gerobaknya tiba-tiba rusak, ada ratusan kawan satu daerah yang siap turun tangan membantu,” kata Eddy.
Dalam pandangannya, paguyuban berfungsi sebagai jaring pengaman sosial dan bisnis, sehingga pedagang tidak sepenuhnya berjuang sendiri. Situasinya berbeda ketika merantau ke luar Jawa, karena jaringan perantau Wonogiri bisa jadi belum terbentuk atau jumlahnya masih sedikit. Akibatnya, pedagang harus merintis usaha tanpa dukungan akses bahan baku yang lebih murah serta tanpa sokongan komunitas saat menghadapi masalah permodalan maupun operasional.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegagalan usaha di luar Pulau Jawa tidak selalu terkait hal-hal gaib. Faktor lingkungan seperti kualitas air, perbedaan selera pasar, hingga ketersediaan jaringan dukungan usaha disebut menjadi penentu yang lebih nyata dalam keberlanjutan bisnis perantau.

